Minggu, 09 Oktober 2011

Aku & Karyawanku

Tubuh Edi ku peluk dengan erat, puncak kenikmatan yang akan aku rasakan memacuku untuk melepaskannya dengan gerakan pantatku yang maju mundur semakin cepat, kontolku pun dengan tepat keluar masuk tepat di lobang pantat Edi. Ku cumbui bibir Edi yang terbuka, kulumat sambil tanganku terus memeluk badannya yang sedikit besar tersebut. Jari-jariku yang dari tadi menarik-narik puting teteknya hingga..

"Akhh", desahku kuat merasakan air maniku keluar, akupun semakin erat memeluk laki-laki tersebut dan menghentikan gerakan pantatku.

"Akhh", desahku lagi menikmati permainan sore ini.

"Bapak sangat puas, sangat puas", ucapku tersenyum pada Edi dan memandangnya.

Ia juga tersenyum menampakkan giginya yang sedikit kuning, aku langsung menciumi bibir Edi dan melumatnya lagi.
Tanganku kini beralih ke kontolnya yang mulai bereaksi, aku terus saja meremas-remas batang kontol laki-laki tersebut dan mengocok-ngocoknya.

"Akh", desah Edi kegelian.

Tubuhku terus menempel pada tubuh Edi sambil menjilati punggungnya, lehernya, mengusap-usap bahunya dan beberapa menit kemudian aku memijit-mijit bahu laki-laki tersebut. Aku mengambil handuk dari dalam tasku dan mengelap seluruh badanku yang berkeringat, Edi juga melakukan hal yang sama.

Aku mendekatinya, "Besok kamu libur?", tanyaku.

"Iya bos", jawabnya sambil tersenyum.

"Mau ikut dengan saya malam ini?"

"Kemana bos? emangnya penting dan harus saya ikut?" tanya Edi lagi.

"Ah, enggak, enggak penting, Saya mau mengajakmu ke hotel, tapi kalau kamu tidak bisa yah tidak apa-apa, mungkin kamu punya acara malam ini dengan teman atau pacarmu"

"Iya bos, saya ada janji dengan si Linda", sahut Edi tersenyum.

Senyumannya yang manis membuat aku bergairah, laki-laki ini begitu tampannya, apalgi saat tersenyum, bibirnya yang tipis, hidungnya yang mancung untuk ukuran orang kita, alisnya yang tersusun rapi, matanya yang tajam dengan bulu mata yang lentik, rambutnya yang pendek, ikal serasi dengan bentuk kepalanya yang oval. Aku mendekatinya, membantunya yang sedang memakai kemeja seragamnya. Kedua tanganku memegang pipinya, kami bertatapan.

"Jadi anak yang baik yah", ucapku, dengan perlahan aku cium bibirnya.

"Kau jaga kesenangan Bapak ini", kataku tersenyum sambil meremas kontolnya.

"Ah..ah..tentu bos, ini masa depanku jugalah", jawab edi tersenyum lebar.

Aku mengeluarkan Rp.100.000 dari dompet, "Ini untuk mentraktir pacarmu", ucapku menyerahkannya pada Edi.

"Terimakasih bos", jawab Edi meraih uang tersebut

"E.. kapan-kapan kenalkan pacar kamu ke saya".

"Oke bos"

Aku tersenyum dan menggangguk saat Edi mohon diri, dan terus memperhatikannya hingga dia keluar dan menutup pintu kantorku.

"Akh, desahku menyandarkan kepala di kursi kerja, tersenyum sambil memandang langit-langit kantorku.

*****

Sebelumnya..

Hari ini begitu banyak kegembiraan dan kesenangan yang aku dapatkan. Aku begitu senangnya melihat neraca penjualan produksi yang sudah mendapatkan keuntunganbersih 75% padahal ini baru pertengahan bulan.

Sehabis jam istirahat aku menemui karyawan-karyawanku di otlet sambil tersenyum menanyakan hal-hal yang menjadi kendala bagi mereka. Menyapa beberapa pengunjung yang sedang menikmati sajian makanan kami dan menanyakan hal-hal yang kurang atas pelayanan, rasa dan kualitas produksi kami. Berbagai keritikan dan pujian aku terima sebagai bahan masukan untuk memberikan pelayanan dan memperbaiki kualitas produksi yang lebih baik lagi dikemudian hari.

Aku menaiki tangga menuju ruang produksi di lantai 2, menanyakan kepada karyawan yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing, kendala yang ada yang perlu diperbaiki dan tak lupa menasehati mereka agar bekerja dengan baik dan bersungguh-sungguh, mementingkan keselamatan, meningkatkan mutu produksi, kerja yang efesien, cepat dan tepat, yang terutama menjaga kesehatan.

Aku menghampiri Edi yang sedang menyusun roti.

"Bagaimana Edi, ada kendala?", tanyaku berbasa-basi.

"Sampai sekarang masih lancar-lancar saja bos", sahutnya.

"Kamu senang kerja di sini?"

"Wah bukan senang lagi bos, saking senangnya tidak bisa diucapkan dengan kata-kata", jawabnya lagi sambil tersenyum.

Aku tertawa pelan, "Sehabis jam kerja mampir dulu ke kantor saya", bisikku sambil memegang pantat Edi.

"Oke bos", jawab Edi dengan sigap.

Aku tersenyum meninggalkan mereka, aku ingin memuaskaan diriku, merayakan kesenangan ini dengan gejolak nafsu, aku membiarkan mereka berkomentaar apa saja karena tidak biasanya aku memperlihatkan kegembiraanku di depan mereka. Aku mengetahui dari sekertarisku bahwa mereka sering mengatakan aku bos killer, bos pemarah dan sebagainya. Namun itulah aku, aku memberikan disiplin yang sangat ketat kepada karyawanku, memaksimalkan pekerjaan mereka, namun aku memberikan hak mereka sebagai karyawan dan memberikan bonus tiap bulannya jika ada keuntungan dari penjualan produksi kami.

*****

Namaku Darma, aku mempunyai usaha ini sudah 7 tahun lebih, joint dengan temanku yang ada di Belanda. Aku memilih membuka usah Bakery di Jakarta dengan modal 50-50 bersama Robert temanku. Aku mengelola usaha bakery ini dengan baik hingga aku mampu untuk membuka sebuah otlet lagi di sebuah Mall di Jakarta. Produksi kami mulai agak terkenal di kota besar ini sehigga aku beroptimis untuk membuka otlet lagi untuk memperkenalkan produksi bakery kami ke masyarakat lebih luas lagi.

Begitu banyaknya usaha sejenis di Jakarta ini, sehingga Kami berusaha untuk memperbaiki kualitas, memberikan pelayanan yang maksimal, memberikan kepuasan, kenyamanan, ketenangan dan keamanan kepada pengunjung dengan memberikan musik-musik yang baik dan enak didengar dan menata toko kami seperti sebuah taman yang indah di suatu ruangan sehingga mereka seperti dimanjakan dan dijamu seperti layaknya seorang raja dan ratu. Dengan begitu mereka tidak akan mudah melupakannya dan akan kembali datang untuk menikmati bakery kami. Segala keritikan kami terima dari pengunjung sebagai bahan masukan untuk memperbaiki pelayanan dan kualitas produksi bakery kami yang lebih bagus lagi dimasa yang akan datang.

Sebagai seorang direktur sekaligus pemilik, aku menyeleksi karyawan yang akan bekerja di perusahaanku. Termasuk Edi, aku begitu menyukai laki-laki tampan tersebut dengan tinggi 165cm dengan berat yang sesuai dengan tingginya. Karyawanku tidak begitu banyak dengan total 42 orang. Ditoko adaa sekitar 26 orang termasuk sekertarisku, sisanya di otlet kami di sebuah mall di Jakarta.

Karyawanku juga didominasi dengan laki-laki, walaupun mereka tampan-tampan dan yang wanita cantik-cantik aku tidak "Melakukannya" Dengan mereka semua. Aku "Melakukannya" dengan orang yang membuatku bernafsu sekali, terutama yang ku ambil disini untuk memuaskan nafsuku adalah laki-laki muda.

Umur ku sudah berkepala 4 dengan mempunyai seorang istri dan 2 orang putra yang satu sudah kelas 2 SMU dan yang stu lagi baru kelas 1 SMP. Dari dulu aku menyukai laki-laki, sejak aku di Belanda. Papi ditugaskan oleh perusahaannya di sana sehingga aku meeruskan sekolah, saat itu aku baru tamat SMP.

Saat di Belanda aku melakukan sex sejenis dengan temanku dan aku menikmatinya. Selesai studyku dan Papi yang sudah selesai dinas sebelum studyku berakhir memintaku untuk kembali ke Jakarta. Aku mulai bergaul untuk mencari teman, karena aku orangnya supel, ramah dan mudah bergaul akhirnya aku mendapatkan teman, namun bagiku yang penting mendapatkan teman laki-laki yang bisa diajak ngesex, tetapi tidak aku dapatkan teman laki-laki itu di sini. Mereka mempunyai pacar yang tentunya wanita, selain aku malu untuk memulai, takut apabila akan diketahui keluargaku atas penyimpangan sex ku ini.

Aku juga pernah mengentot dengan wanita di Belanda maupun di sini, namun aku rasakan hambar berhubungan intim dengan mereka.
Risdam, temanku yang dikenalkan Mami saat aku aku baru pulang kesini, begitu cantik, ramah dan menarik. Dia bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Dari dialah aku mulai tahu seluk beluk jalan di Jakarta yang begitu banyak perubahan sejak aku tinggalkan. Kami sering jalan berdua ke mall atau nonton film. Dia juga mengenalkan aku dengan teman-temannya sehingga aku mendapat banyak teman.

Kami mulai dekat dan menjalin asmara, namun seperti yang aku katakan, aku begitu hambar bila mengentot dengan seorang wanita, kami pernah mengentot dan tidak sering, itu juga Risdam yang minta, dia begitu bernafsu melihat ketampanan wajahku dan tubuh atletisku, dia sering mencumbuiku dan mengajakku untuk mengentot. Perbuatan kami akhirnya membuahkan hasil, Risdam hamil!

Aku terpaksa menikahi Risdam dengan dorongan Mami. Keluarga Risdampun memberi lampu hijau. Akhirnya sebagai anak yang bertanggung jawab dan berbakti kepada orang tua, akupun menikahi Risdam, yang ternyata baru aku ketahui bahwa aku memang dijodohkan dengan Risdam oleh Mami kepada orang tua Risdam. Orang tua kami memang akrab. Papi Risdam teman bisnis Papi. Sekenario mereka berjalan seperti yang diinginkan (tidak termasuk kehamilan Risdam, itu karena nafsunya yang ingin bersetubuh denganku).

Keseharianku terasa membosankan, walau aku sudah bekerja di perusahaan Papi. Rasa nafsuku pada sejenis sejak dulu masih ada, aku selalu terangsang melihat laki-laki tampan dengan tubuh atletis, jika begini aku melampiaskannyaa dengan mengocok-ngocok kontolku sambil membayangkan laki-laki tersebut. Saat bersetubuh dengan Risdam pun aku selalu berfantasi dengan laki-laki, dengan membayangkan wajah, tubuh atau kontol mereka. Aku sering membayangkan mengentot dengan Andi, rekan kerjaku. Wajahnya yang tampan dan imut-imut membuat aku bernafsu padanya. Aku masih menjalankan tugasku sebagai seorang suami, memberikan kebutuhan biologisku kepada Risdam saat dia memintanya untuk mencumbuinya dan di entot. Akhirnya dengan alasan yang kubuat, bisa juga meyakini Risdam, orang tuanya, Mami dan Papi. Akupun berangkat ke Belanda meninggalkan Risdam dan anakku yang baru berumur dua setengah tahun.

Di Belanda aku menemui teman-teman ku dan pembaca bisa mengetahui apa yang aku lakukan, yah aku kembali menikmati nafsuku dengan teman-teman ku yang sejenis. Nafsu yang telah lama aku pendam selama di Jakarta, di sini aku bebas melakukannya tanpa perasaan takut, malu atau was-was apabila keluargaku mengetahui.

Aku seperti laki-laki lain, jantan, gagah, menyukai olah raga, senang bergaul, tidak kebanci-bancian, namun itu hanya luarnya saja bagian diriku yang terlihat oleh orang-orang di sekitarku atau bahkan orang-orang di muka bumi ini, namun sesungguhnya aku orang yang mencintai jenisku yaitu laki-laki. Aku menyukainya seperti bagaimana halnya seorang laki-laki menyukai perempuan, bagaimana halnya seorang laki-laki menyukai tubuh seorang perempuan, payudaranya atau pepeknya. Demikian juga aku, bagaimana halnya kau menyukai tubuh laki-laki, wajahnya atau kontolnya, aku memandangnya sama persis seperti laki-laki normal.

Aku begitu senangnya tinggal di Belanda sebagai negara keduaku, di sini aku banyak teman, untuk masalah uang tidak sulit bagiku, aku bekerja sebagai bartender di bar Robert temanku, bar para homoseksual. Di sini begitu bebasnya orang bercumbu atau mengentot, tentu saja dengan sejenis. Di bar ini sekaligus tempat laki-laki mencari pasanganyan untuk mengentot, demikian juga aku walaupun aku sudah punya kekasih laki-laki, namun aku berhak untuk mengentot dengan laki-laki yang aku sukai. Kami selalu berpesta tiap malam, menikmati nafsu birahi kami sepuasnya. (Saya akan menceritakan pengalaman saya selama tinggal di Belanda kepada para pembaca). Kadang-kadang aku juga menelepon Risdam dan Mami.

"Ngapain lagi di sana? kalau untuk kerja, kenapa tidak di Jakarta saja, kamu bisa melanjutkan bisnis Papi di sini, kasihan kan Risdam dan anakmu ditinggalkan", ucap Papi.

Aku hanya diam, pusing juga memikirkannya, namun pikiran tersebut hilang setelah malamnya aku berpesta lagi bersama temanku, menikmati gejolak nafsu kami. Suatu saat Risdam dengan nekat mau menjemptku, namun aku melarangnya dengan alasan macam-macam sehingga niatnya tersebut tidak pernah dia lakukan.

Waktu sepertinya berlalu dengan cepat bagiku ternyata sudah 2 tahun lebih aku meninggalkan Risdam dan anakku, hingga aku mendapatkan kabar dari Mami yang aku harus benar-benar pulang hari ini juga. Di pesawat aku berniat untuk ke rumah sakit dulu menjenguk Papi yang di opname karena sakit jantungnya kambuh. Tiba di bandara Soekarno-Hatta, aku menelepon Mami, namun HP-nya tidak aktif, akupun menelepon HP Risdam.

"Tidak usah ke rumah sakit Mas, langsung ke rumah saja, Papi sudah tidak ada", ucap Risdam dengan suara terbata-bata dan isak tangisnya yang kudengar. Aku segera meluncur pulang ke rumah yang ternyata sudah ramai orang, aku langsung berlari menangis, memeluk jenazah Papi.

*****

Aku memohon maaf pada Mami, Mas-Masku, pada keluarga Risdam, dan terutama pada istri dan anakku yang mulai tumbuh besar, lincah, bijak dan tampan seperti papanya. Akhirnya kami kembali untuk bersatu lagi. Aku berencana membuka usaha, aku menolak saat Mami menawarkan untuk mengelola usaha Papi.

"Biarlah Mas Farma yang mengurusnya", ucapku.

Aku anak bungsu dari 5 bersaudara yang semuanya laki-laki. Papi Risdam setuju bahkan menawarkan modal untuk usahaku, namun aku tolak dengan baik. Aku melibatkan Robert temaku untuk menanam modalnya untuk usahaku ini dengan pikiran temanku itu akan berkunjung ke Jakarta untuk melihat perkembangan modal yang dia tanam di usahaku, dengan membawa teman atau mengajak Howard yang menjadi kekasih gayku di Belanda dan tentunya kami akan berpesta sex di sini. Robert setuju, akhirnya aku membuka usaha bakery yang kupilih tersebut. Isteriku, Papi linda dan Mami banyak membantu hingga berdirilah usahaku.

Aku mengundang artis saat peluncuran produksi bakery kami sebagai promosi, aku juga mengiklankannya di surat kabar, majalah, televisi dan media lainnya. Bulan pertama penjualan produksi bakery kami mendapatkan keuntungan bersih 50%, aku menjadi senang, dan apalagi bulan-bulan berikutnya penjualan produksi bakery kami juga mendapatkan keuntungan.

Saat itulah aku mulai berani untuk mendekati salah satu karyawan laki-laki ku yang bernama Irwan, sudah lama aku tertarik pada laki-laki tampan tersebut dengan tinggi 163cm, dengan kulit yang kuning langsat, tubuhnya yang padat bulat dan lesung pipinya yang kelihatan saat dia tersenyum, laki-laki tersebut benar-benar membuatku bergairah dan bernafsu. Diam-diam aku sering memperhatikannya saat dia bekerja menyajikan bakery ke meja pembeli.

Jam istirahat seperti permintaanku pada Maya, sekretarisku, Irwan datang ke kantorku.

"Selamat siang Pak"

"Irwan, mari duduk", sahutku melihat irwan masuk ke kantorku. Laki-laki tersebut duduk di depan meja kerjaku.

"Kamu sudah 3 bulan kerja di sini yah", ucapku berbasa-basi membuka-buka arsip.

"Benar Pak", jawab irwan mengangguk. Aku menatap Irwan, melepas kaca mata yang aku kenakan.

"Kamu menyukai pekerjaan kamu?", tanyaku lagi.

"Iya benar Pak, Saya suka dengan pekerjaan ini", jawab Irwan lagi.

"Masa percobaan kamu sudah habis, apabila saya angkat kamu menjadi karyawan tetap saya, tanggung jawab kamu kepada perusahaan ini semakin dituntut dan saya minta loyalitasmu, dan bersungguh-sungguh bekerja, menjaga segala yang menjadi rahasi perusahaan dan juga inventarisnya". Irwan mengangguk.

Aku berjalan ke depan, mengunci pintu kantorku.

"Kalau kamu bisa melaksanakannya saya tidak segan-seganmenaikan gaji kamu atau bahkan mempromosikan kamu sebagai Supervisor produksi, karena saat ini saya rasa kita membutuhkan satu orang yang dapat mengontrol produksi dan mengawasi pekerjaan karyawan-karyawan lainnya", ucapku menjelaskan.

Aku mendekati Irwan, menyentuh pundaknya, memijat-mijat bahu laki-laki tersebut.

"Promosi jabatan ini tidak saya umumkan dengan karyawan lainnya, jika kamu mempunyai persyaratan tersebut, kamulah yang saya pilih, karena setelah saya melihat kerjamu, saya menjadi tertarik dan ingin memberikan jabatan tersebut kepada kamu".

"Terimakasih Pak", sahut Irwan. Aku menarik tangan Irwan dan mengajaknya duduk di sofa.

"Sudah makan?", tanyaku.

"Sudah Pak", Irwan menjawab.

Kami duduk berdekatan di sofa. Irwan mengambil rokok yang aku tawarkan kepadanya.

"Santai saja yah", ucapku.

Kami terus mengobrol, Irwan menjawab pertanyaan yang aku lontarkan, tentang dirinya dan keluarganya. Aku merangkul pundak Irwan, tangan kiriku mengelus-elus pipinya, aku sangat bergairah dan sangat bernafsu pada laki-laki yang sudah ada di dekatku itu. Nafsuku yang terpendam selama ini perlahan namun pasti akan tersalurkan. Irwan hanya diam saat aku mencium pipinya. Dia sedikit kaget.

"Pak?", tanyanya heran. Aku hanya tersenyum.

"Sudah pernah ngentot?", tanyaku.

Irwan dengan malu malu menjawabnya bahwa dia beberapa kali mengentot dengan pacar-pacarnya, sewaktu dia SMU dan sampai sekarang.

"Playboy juga kamu yah", ucapku tersenyum menarik hidungnya. Dia hanya tersenyum.

"Kalau Saya yang mengentot kamu, bagaimana?" tanyaku.

Irwan tersenyum memandangku. Aku langsung menciumi bibir Laki-laki tersebut, menciumi pipinya, hidungnya dan cumbuanku kembali mengarah kepada bibirnya, lama kau cumbui, tangankupun mulai mengarah ke kontolnya, ku remas-remas. Irwan mulai bereaksi, dia membalas cumbuanku, yang tadinya gugup, laki-laki tersebut mulai mengendalikan dirinya mengikuti permainanku, Irwan mulai agak santai dan mengikuti gerak bibirku saat melumat bibir atasnya, dia mengatup bibir bawahnya sehingga mengenai bibir bawah bibirku, kami terus saling bercumbu.

"Akhh", desahku, menarik mulutku menjauh dari bibirnya, aku tersenyum.

Tanganku yang dari tadi meremas-remas kontolnya, kurasakan mulai bereaksi, aku membuka talipinggang celananya, irwan cukup membantu dengan berdiri sehingga aku dapat membuka celana dan kolornya sekaligus, melihat totongnya yang sudah membesar, panjang dan tegang aku mengocoknya menatap Irwan dan tersenyum, lalu aku langsung mamasukan totong Irwan ke dalam mulut ku dengan mahirnya aku mengocok-ngocok totong Irwan dengan mulutku. Irwan berkali-kali mendesah kenikmatan, aku mengangkat batang buah jangkar kontol Irwan dan aku jilati, aku isapi.

"Akhh", desah Irwan lagi, aku semakin bernafsu, aku membuka kemeja, dan celana.

Aku menarik tangan Irwan mengarahkan ke totongku, Irwan mengikuti mengocok-ngocok kontolku, aku mengajak Irwan duduk di sofa kembali, aku meremas totongku yang besar dan panjang, hitam dan mendekatkan ke totong Irwan dan ku genggam kedua kontol tersebut, sambil ku kocok-kocok, Irwan mendesah sambil menyaksikan permainanku, yang beberapa lama, hingga laki-laki tersebut akhirnya melepaskan cairan maninya yang kental.

"Wah, sudah loyo yah", ucapku tersenyum, Irwan hanya tersenyum.

Aku menarik tangan Irwan, menyuruhnya untuk nungging, dan dengan posisi tersebut aku langsung menyodok lobang pantat Irwan dengan totongku.

"Akhh", desahku merasakan keperawanan lobang pantat laki-laki tersebut.

Irwan menggigit bibirnya, mencekram sofa dengan kedua tangannya, menahankan sakit. Aku terus menikmati lobang pantat Irwan yang terkoyak dan berdarah, terus aku sodok-sodok, pantatkupun ku buat maju-mundur, hingga beberapa menit kemudian aku mencapai klimaks, aku menghentikan gerakan goyangan pantatku, memeluk punggung Irwan.

Aku menggigit telinga Irwan, menit-menit kemudian aku jilati punggung Irwan, aku ciumi, aku jilati telinganya, aku mengajak Irwan duduk kembali, kami berdua tersenyum, aku meremas-remas totong laki-laki itu kembali, sambil menanyakan bagaimana keadaannya setelah aku sodomi.

"Sakit Pak", ucapnya tersenyum, aku memeluknya menciuminya kembali, Irwan juga membalas cumbuan ku.

Kembali nafsuku bergairah lagi, aku minta Irwan untuk naik ke atas pangkuanku, dengan perlahan Irwan duduk di atas pangkuanku, batang totongku telah tenggelam ke dalam lobang pantatnya, aku menggerak-gerakan tubuh Irwan, mengangkat-ngangkatnya sedikit, Irwan menjadi mengerti, akhirnya laki-laki tersebut menggerak-gerakan tubuhnya naik turun, sesekali batang totongku tidak tepat masuk kedalam lobang pantatnya, aku memasukannya kembali, Irwan menggerakan tubuhnya kembali, aku memeluk tubuh laki-laki tersebut, memain-mainkan puting teteknya, mengocok-ngocok kontolnya, dan kembali mencumbui bibirnya, beberapa menit kemudian aku meminta posisi lain lagi, karena melihat Irwan yang sudah agak kelelahan dengan posisi tersebut. Aku membaringkan tubuh Irwan di Sofa, ku angkat kedua kakinya dan meletakkannya di atas bahu ku, aku pun mulai menerobos lobang pantat Irwan dengan batang kontolku.

Aku mulai menyodok-nyodok lobang pantat Irwan, sesekali aku turunkan tubuhku untuk mencumbu bibirnya, Irwanpun membalas cumbuanku, lama aku lakukan dengan menyodok-nyodok lobang pantat Irwan dengan cepat, sesekali aku menarik nafas mencegah agar permainan ku tidak cepat berakhir, aku gerakan pantatku maju mundur dengan cepat lagi, hingga aku tidak mampu untuk menahan puncak kenikmatanku lagi. Nafas Irwan tersengal-sengal, sambil mengocok-ngocok kontolnya, aku mencabut batang totongku dari lobang pantat Irwan, kudekatkan mulutku ke arah totongnya, dan aku isap-isap, ku kocok-kocok dengan mulutku.

Irwan mendesah kenikmatan, aku terus membetot totong Irwan sampai pangkalnya, kulepaskan kemudian dan kujilati kepala totongnya yang merah tersebut, kembali kumasukan kedalam mulutku, akhirnya Irwan mengejang, aku merasakan cairan maninya moncrot di dalam mulutku, aku mengeluarkan batang totong Irwan dari mulutku perlahan, kedua bibirku terus membetot batang kontolnya yang keras, hingga sampai ujung totongnya telah keluar dari mulutku, aku menjilati kepala kontol Irwan yang besar tersebut. Dia mendesah keenakan, aku tersenyum, demikian juga Irwan. Kami menyelesaikan permainan kami, akhirnya nafsuku terpuaskan dengan Irwan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2012 GAY INDO STORY. All rights reserved.