Senin, 31 Oktober 2011

Kenangan Masa Kecil

Aku adalah anak pertama dari tiga orang bersaudara dan berdarah oriental. Kedua adikku perempuan dan saudara tidak seayah. Sedangkan ayahku sudah memiliki keluarga lain. Aku adalah anak yang dibesarkan tanpa kasih sayang dari seorang ayah. Ayah tiriku sendiri saat itu telah memiliki wanita lain disamping ibuku. Kami sebagai anak-anaknya sering kali melihat mereka saling ber'perang' atau melihat benda-benda yang melayang karena dilempar. Kehidupan keluargaku juga merupakan sebuah cerita yang jika disinetronkan akan jadi sebuah telenovela yang sangat panjang. Namun hal itu tidak akan kubahas di sini.

Bermula saat aku masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar di daerah Mangga Besar di Jakarta. Saat itu aku baru pindah dari daerah Mangga Dua ke daerah Kebon Kelapa (sekarang kedua daerah tersebut tinggal kenangan karena sudah banyak berubah). Aku berkenalan dengan dua orang anak dari tetangga sebelahku. Mereka, Andrew dan Darwin (kedua nama telah disamarkan) adalah Kakak beradik. Andrew lebih tua dua tahun dariku sedangkan Darwin lebih muda satu tahun dariku.

Ukuran tubuhku saat itu tidak terlalu kurus dan juga tidak terlalu gemuk. Kami selalu bermain ketempat-tempat yang jauh, cari-cari ikan diselokan atau bersepeda. Kadang suka menonton video, main game bersama atau main layangan. Aku juga sering datang kerumah mereka. Pada suatu sore saat aku berkunjung ke rumahnya, aku diajak bermain di atas loteng. Dari depan lotengnya, kami bisa melihat orang melewati rumah kami. .

"Gun, liat gue nih. Gue akan kencing dari atas ke bawah", ujar Andrew.
"Gila luh, kena kepala orang tau!" seruku sambil melihatnya mengeluarkan penisnya yang belum disunat.
"Ah, nggak apa-apa. Udah biasa tau" katanya.

Lalu dia benar-benar kencing seperti air mancur yang turun dari gunung yang tinggi. Aku segera melongok kebawah kalau-kalau ada orang yang kena.

"Untung gak ada orang", pikirku sambil kulirik 'burung'nya. Wah, menurutku 'burung'nya itu cukup besar untuk anak seukurannya.
Ia tersenyum saat aku meliriknya dan berkata, "Mau liat yang lain gak? Lebih seru nih..!"
"Boleh, apaan sih?" aku balik bertanya.

Kedua kakak beradik ini kemudian saling berhadapan satu dengan yang lain lalu saling melepaskan celananya, sehingga yang nampak adalah kedua penis mereka yang besar dan panjang. Mereka kemudian duduk saling berhadapan satu dengan yang lain, lalu saling menempelkan penis. Saat aku tertegun melihat tingkah polah mereka, Darwin menarikku untuk juga menunjukkan kejantananku. Darwin berbalik kepadaku dan melepaskan celanaku. Aku bingung bercampur malu saat itu karena tidak pernah 'burung' kesayanganku itu dilihat oleh orang lain kecuali orang tuaku tentunya. Apalagi saat itu aku tidak pakai CD. Andrew kemudian memegang penisku yang tertidur lalu digosok-gosokkan dan disentuhkan ke penisnya.

"Wah, burung loe lucu banget. Belum disunat ya", kata Andrew. Aku tertawa kecil.
"Ah, loe juga" jawabku.

Saat itu kulup kepala penisku dibuka. Aku hanya meringis saja. Kepala penis Darwin dimasukkan kedalam kulup kepala penisku. Jadilah kedua penis kami bersatu dan nampak menempel. Andrew tertawa saat menyaksikan hal tersebut. Darwin kemudian mempermainkan penisku sehingga agak tegang. Aku hanya diam mengikuti gerak alur mereka. Saat itu tangan Andrew juga ikut memegang penisku sehingga seakan-akan menjadi mainan baru mereka. Aku hanya mengeliat geli karena perlakuan mereka.

"Wah, ntar diliat orang nih?" kataku sambil melirik ke arah tangga.
"Nggak, lagian gak ada orang di rumah!" kata Darwin tegas.
"Ngaceng nih" seruku lagi.
"Biarin" katanya lagi, kemudian penisku diurut-urut dan digoyang-goyangkan. Karena sentuhan dan rangsangan mereka akhirnya penisku menjadi tegang berdiri. Kemudian mereka mengocok-ngocoknya.
"Aduh, sakit nih" seruku lagi.

Mereka hanya tertawa namun tetap melakukannya. Saat itu aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. . Sambil terus mempermainakan penisku, merekapun bercerita jika Ayah Ibu mereka sering melakukan hal ini di malam hari. Setelah itu mereka mengajakku kekamar. Aku kaget saat yang terjadi berikutnya adalah mereka menunjukkan kepadaku apa yang mereka lihat jika kedua orang tua mereka sedang bercinta. Mereka seperti sedang melakukann hubungan seks layaknya suami istri. Saat itu aku masih sangat polos sehingga hanya terbengong-bengong saja menyaksikan tingkah mereka.

Yang terjadi berikutnya adalah mereka menyuruhku untuk merebahkan diri. Ditaruhnya aku di atas kasur. Tanpa sepatah katapun, Andrew tiba-tiba menindih diriku. Aku kaget dan berusaha untuk menghindar. Apalagi badannya lebih besar dari aku. Tapi karena tangannya terus merangsang penisku dan mulutnya menciumku akhirnya aku malah menikmatinya. Sementara Darwin hanya menyaksikan perbuatan itu dengan tertawa.

Walaupun aku cukup risih untuk pertama kalinya tapi karena rangsangan demi rangsangan yang mereka berikan membuat aku menyukainya. Saat itu aku hanya mempunyai pikiran bahwa apa yang sedang kami lakukan ini sungguh nikmat dan belum pernah aku merasakan hasrat seperti ini. Yang kupikirkan adalah bahwa mereka teman-temanku dan aku tidak mau mengecewakan mereka. Wah, kecil-kecil mereka ternyata cabe rawit loh!

Hari demi hari terus kami lalui. Aku sangat senang bermain dengan mereka karena aku adalah seseorang yang memang kurang kasih sayang dari orang tua. Dan aku merasa mendapatkan kasih sayang dari teman-teman tetanggaku itu. Aku tidak tahu kalau ternyata 'permainan' yang sering kami mainkan membawaku lebih jauh dalam dunia yang aku tidak kenal sebelumnya. Setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hal yang demikian. Saat itu aku merasa adalah wajar-wajar saja jika beberapa teman cowok saling menunjukkkan penis mereka dan saling memegang, mengelusnya atau mengocoknya. Ah, sebuah pemikiran yang akhirnya membawaku menjadi seperti ini.

Sekitar setahun setelah kejadian itu, aku pindah rumah kontrakkan. Rumah baruku tidak jauh dari rumah kontrakkan sebelumnya sehingga teman-temanku sering datang. Kini giliran aku yang agresif. Setiap ada kesempatan, aku suka ajak mereka kerumahku. Tapi yang paling sering adalah Darwin. Aku senang padanya karena dia cakep dan putih banget. Aku suka sekali mengajaknya kekamarku, bercerita tentang hal-hal porno dan tentang tingkah laku Ayah dan Ibu kami masing-masing, atau tingkah laku orang yang sedang pacaran lalu tidur bareng sambil saling mengocok penis, walau saat itu aku dan dia belum akil balig, sehingga tidak ada sperma yang keluar.

Dia tidak pernah menolak saat kuajak untuk berhubungan badan (saat itu aku belum mengetahui anal maupun oral sex) atau saat aku mencium dirinya. Kami sering sekali memainkan kepala penis lawan main sambil membuka kulit kulum kepala penis. Kadang kedua penis kami sering kami gesek-gesekkan satu dengan yang lain atau kami satukan kedua penis kami dengan cara saling berhadapan lalu dikocok bersamaan dan itu menimbulkan kenikmatan tersendiri. Saat itu aku merasakan kepuasan jika bisa 'bermain' dengannya. Selama ini kami tidak pernah dilihat oleh orang lain sehingga merasa aman-aman saja. Kamar tidurku memang jarang dikunci karena aku suka lupa untuk menguncinya.

"Gun, lagi ngapain? Si Darwin juga.. Ngapain berdua aja?" seru pembantuku saat menyaksikan adegan kami.
"Lagi nggak ngapa-ngapain kok!" tangkisku sambil cepat-cepat meresleting kembali celanaku yang sedang terbuka sambil membelakangi Darwin yang tidak sempat meresleting celanannya karena penisnya sedang tegang.
"Untung aja baru membuka reselting" pikirku.

Kucoba untuk menutupi badan Darwin dengan badanku. Saat itu kulihat muka Darwin pucat pasi seperti melihat hantu. Entah apa yang ada dipikirannya, sepertinya kami akan siap-siap diomeli bahkan dipukuli jika ketahuan sama orangtua kami..

"Darwin dicariin tuh sama Mamanya", kata pembantuku yang kemudian keluar dari kamarku. Nampak di wajah pembantuku ada keingintahuan.
"Gun, gue balik ya. Gak enak nih diliat pembantu loe" kata Darwin pelan sambil menarik resletingnya.
"Iya deh. Sorry banget nih, dasar tuh pembantu, masuk nyelonong aja" gerutuku.
"Nanti main-main lagi ya ke sini", pintaku padanya. Dia hanya mengangguk, kemudian keluar rumahku dengan cepatnya.

Beberapa hari kemudian Darwin kembali main ke tempatku. Seperti biasa kami melakukan hal serupa. Tapi kali ini aku sangat terkejut karena tiba-tiba pembantuku kembali nyelonong saat aku dan Darwin tengah 'bermain pedang'.

"Wah, mati aku!" pikirku.

Aku dan Darwin sama-sama membisu, tidak tahu harus berkata apa. Pembantuku segera keluar kamar dan aku berharap agar ia tidak memberitahukan hal ini kepada mama. Darwin bergegas pulang. Aku hanya menunggu jika Ibuku akan memanggil. Ternyata.., Pembantuku tidak mau ambil pusing. Ia tidak memberitahukannya. Aku bernafas lega.

Sungguh itu adalah hari terakhir aku dapat bertemu dengan Kakak beradik itu. Saat itu aku sangat merindukan mereka, Namun apa dayaku, kami harus pindah rumah lagi karena jangka waktu kontrak rumahku sudah habis. Aku sangat sedih sekali saat itu karena harus berpisah dengan teman-teman 'sepermainanku'.

Sesungguhnya itulah permulaan dimana aku masuk kedunia yang belum kukenal. Seorang anak polos yang hanya menginginkan kasih sayang dari orang lain. Sampai saat pindahpun aku tidak tahu apa istilah dari gay itu. Untuk kalian berdua yang mungkin membaca cerita ini, aku sangat senang bermain dengan kalian. Terimakasih sudah menjadi teman-teman mainku dikala kecil.

Selamat tinggal Andrew. Selamat tinggal Darwin, aku sangat merindukan kalian! Aku hanya berharap kalian semua menjadi orang baik-baik.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2012 GAY INDO STORY. All rights reserved.