Senin, 31 Oktober 2011

Kisah Keluargaku

Namaku Robert Budiman, umur 18 tahun, kelas 3 SMU. Keluarga kami termasuk keluarga kecil, yang penghuninya laki-laki semua, dikepalai oleh kakekku, Rudi Budiman. Tahun ini Kakek akan berumur tepat 55 tahun. Umurnya memang hampir senja, tapi penampilannya sangat jauh dari kesan tua. Malah, penampilannya masih macho dan keren.

Kakek dulu bekas tentara, maka dia selalu membiasakan diri berolahraga. Dia selalu dalam keadaan bugar dan kekencangan otot tubuhnya terjaga. Rambut ubannya yang hampir menutupi seluruh kepalanya malah memberi kesan seksi. Keriput di wajahnya kurang terlihat, sehingga penampilannya mirip pria berusia 40-an. Kakek hanya menikah sekali saja dan mendapatkan 2 orang putra yang tampan-tampan.

Lima tahun setelah pernikahannya, dia menceraikan istrinya dan tak pernah melirik wanita lain. Nasib kedua anaknya, ayahku dan pamanku, tak jauh berbeda. Pamanku, Albert (36 tahun), anak sulungnya, selalu gagal dalam percintaan dan menolak untuk menikah. Sementara ayahku, anak bungsunya, Irwan (34 tahun), berhasil menikah tapi tak bertahan lama. Ibuku memang wanita yang tidak baik, saya lega dia pergi meninggalkan kami.

Kata ayahku, namaku diambil dari nama aktor idolanya: Robert Redford. Dalam sebuah rumah yang tak mewah, tapi juga tak kumuh, kami berempat hidup bersama. Dulu, saya mengira keluargaku adalah keluarga yang 'normal'. Tapi pada suatu malam, saya mengetahui hal yang sebenarnya. Kini saya tak heran lagi kenapa Ayah, Paman, dan Kakek tak pernah menjalin hubungan lagi dengan wanita. Ternyata mereka semua pria HOMOSEKSUAL!

Malam itu Ayah mendatangi kamarku. Saya pada saat itu sedang bersiap-siap untuk tidur, hanya mengenakan celana dalam putih. Ayahku sendiri hanya melilitkan handuk di pinggangnya.

"Robert, kamu sudah cukup umur sekarang. Sudah saatnya kamu ikut acara keluarga kita," kata ayahku, berdiri di ambang pintu sambil memandangi tubuhku yang seksi itu.

Meski baru 18 tahun, saya menjaga tubuhku dengan baik sekali. Apalagi saya juga bergabung dalam berbagai tim olahraga di sekolahku, maka tak heran jika badanku atletis sekali. Diam-diam, kontol Ayah mulai ngaceng.

Tiba-tiba, Kakek dan Paman menyeruak masuk. Mereka pun hanya mempunyai handuk untuk menyembunyikan kontol mereka. Saya memang sering melihat Ayah, Paman, dan Kakek bertelanjang dada. Dan menurutku, mereka memang bertubuh indah. Sebelumnya, saya tak pernah menyangka bahwa saya akan terangsang dengan sesama jenis, sebab di sekolahku saya terkenal sebagai playboy yang sering mengejar para cewek. Tapi mulai detik itu, hidupku akan berubah. Dalam sekejap, saya sudah dikelilingi keluargaku.

Mereka semua naik ke atas ranjang dengan tatapan penuh nafsu. Kontol mereka yang ngaceng tercetak di balik handuk mereka. Paman nampak sudah tak dapat lagi membendung hasrat homoseksualnya. Paman sudah mulai meraba-raba punggung dan bahu saya. Diraba seperti itu, saya mulai takut.

"Jangan takut, anakku," sahut Ayah.
"Kami takkan menyakitimu. Kamu harus patuh pada kami karena kami mencintaimu.."

Ayah lalu melepas handuknya. Begitu handuk itu jatuh ke lantai, saya untuk pertama kalinya melihat betapa panjangnya kontol ayahku itu. Kontol itu bersunat dan berkedut-kedut. Hal pertama yang terpikir oleh saya adalah bahwa ayahku akan memperkosaku secara homoseksual. Secara refleks, saya ingin menghindarkan diri, tapi Paman dan Kakek memegangi tubuhku kuat-kuat. Dengan panik, saya mulai meronta-ronta. Namun saya tak sanggup mengalahkan Paman dan Kakek.

"Paman.. Kakek.. Lepaskan saya. Mau apa kalian?" saya mulai menggigil ketakutan saat ayahku yang telanjang bulat menempelkan tubuhnya dengan tubuh saya. Kontol ayahku yang ngaceng sesekali terbentur dengan kontol saya yang masih tidur.
"Jangan takut, Robert. Kamu sudah dewasa sekarang, sudah cukup umur untuk bergabung dengan tradisi keluarga kita," jelas Ayah sambil menggosok-gosokkan kontolnya yang ngaceng ke pahaku. Sementara itu, bibirnya menjelajahi dadaku yang agak bidang dan berotot itu.

Adalah bohong jika saya tidak merasakan kenikmatan saat ayahku berusaha untuk menggauliku. Sekujur tubuhku bergetar karena nikmat dan sekaligus karena takut. Saya bingung kenapa saya menyukai apa yang sedang dilakukan ayahku terhadapku. Saya mulai bertanya-tanya tentang seksualitas diriku. Pelan tapi pasti, kontolku mulai berdiri dan ngaceng. Tapi meski demikian, moral tetaplah moral. Seorang ayah tak pantas menghomoi putranya. Dan saya tak ingin dipermalukan seperti itu. Dengan memelas, kumohon agar ayahku melepaskan diriku.

"Ayah.. Jangan, Yah. Kumohon, Yah, sadarlah.. Ini salah.. Aahh.." saya mendesah saat kontol Ayah kembali menyapu pahanya.
"Ayah.."

Namun Ayah tentu saja tak mengindahkan permohonan anak semata wayangnya itu. Dia bertekad untuk menghomoiku; sudah lama dia menginginkan untuk mencicipi tubuh putranya yang indah itu. Kenangan saat pertamanya dihomoi kembali mengisi pikirannya. Saat Ayah berumur 17 tahun, dia dihomoi oleh Kakek dan Paman. Dia ingin agar saya juga merasakan saat-saat indah itu.

"Ayah sudah lama ingin berhomoan denganmu, Robert," Ayah berbisik sambil menjilati daun telingaku. Tangannya meraba-raba dadaku, merasakan jantungku yang berdetak keras.
"Tenang, anakku. Ayah janji, kamu akan sangat menikmatinya. Percayalah.."

Ayah membelai-belai rambutku dan menciumi bibirku. Saya kaget dan berusaha untuk mengelak, tapi Paman memegangi kepalaku sehingga saya terpaksa menerima ciuman ayahku yang bejat itu. Saya berusaha menutup bibirku rapat-rapat tapi lidah ayahku memaksa masuk.

"Mmpphh!! Mmpphh!! Mmpphh!!" Mendadak Kakek mencubit kedua putingku dari belakang. Tak ayal lagi, saya pun menjerit kesakitan.
"Aarrgghh!!" Kesempatan emas itu langsung dipergunakan Ayah dengan memasukkan lidahnya ke dalam mulutku yang terbuka lebar.

Seperti orang yang kerasukan setan seks, Ayah dengan bernafsu memaksakan ciuman itu padaku. Saya panik tapi tak bisa mengelak. Dengan jijik, saya terpaksa menerima jilatan lidah ayahku dan merasakan air liur kami bercampur.

Kakek dan Paman tak mau ketinggalan. Bibir mereka menjelajahi tubuhku; tangan mereka tetap memegangi badanku agar saya tidak kabur. Desahan napas mereka menderu-deru di telinga saya. Jilatan lidah mereka yang basah dan hangat menodai tubuhku. Tangan-tangan mereka sibuk meremas, mencubit, meraba setiap jengkal tubuhku yang macho itu. Saya sadar bahwa saya hanya bisa pasrah. Tiba-tiba, saya merasa celana dalamku diperosotkan oleh pamanku. Kontan saja, kontol saya yang sudah ngaceng terlompat keluar. Mereka hanya bisa berdecak kagum, menyaksikan ukuran kontolku.

"Panjang juga kontol loe," komentar Paman.

Dengan nafsu, Paman mengocok-ngocok kontolku. Kontol itu terasa hangat dan berdenyut di tangannya. Air liur Paman hampir menetes keluar, ingin sekali menghisap kontolku.

"Gue hisepin yach, Rob.." Tanpa menunggu persetujuanku, Paman langsung memasukkan kontol itu ke dalam mulutnya.
"Mm.." Nampaknya Paman belum pernah menghisap kontol seenak kontolku. Ekspresi kenikmatan jelas tergambar di wajahnya yang tampan. Berbekal pengalaman menyepong kontol Kakek dan Ayah, Paman langsung memberikan servis hebat pada kontolku. SLURP! SLURP!

Saya terhenyak saat merasakan sensasi nikmat pada kontolku. Hangat dan basah. Lidah Paman menyapu-nyapu dan membelai-belai kepala kontolku. Tenaga hisapan mulut Paman juga luar biasa. Saya sampai mengerang-ngerang keenakkan. Tapi suaraku tertahan di dalam karena ayahku masih saja menciumi bibirku.

"Mmpphh.. Mmpphh.." Saya kini tak melawan lagi. Kuputuskan untuk mencoba berhomoseks. Dan ternyata, sejauh ini, homoseks itu menyenangkan. Saya kemudian mencoba untuk menciumi ayahku. Lidahku bergulat dengan lidahnya, sementara air liur kami berbaur. Kakek hanya tersenyum mesum melihat kejadian itu.

"Mmpphh.. Mmpphh.." Birahiku makin berkobar saat tangan Ayah meraba-raba dada bidangku. Sesekali putingku dimain-mainkan, membuatku kehabisan napas. Hisapan pamanku juga menambah sensasi nikmatku. Oohh.. Nikmatnya berhomoseks dengan keluarga sendiri. Ayahku kemudian melepaskan ciumannya, dan langsung digantikan oleh Kakek.

Dengan bernafsu, Kakek memeluk tubuhku sambil berkata, "Kakek sudah merindukan saat-saat ini, Robert. Akhirnya, Kakek bisa berhomoan sama kamu."

Melihat tubuh kakekku yang masih atletis itu, saya terangsang sekali. Tiba-tiba pantatku diremas-remas oleh Kakek.

"Kamu masih perjaka. Tapi setelah malam ini, kamu akan kehilangannya. Dan percayalah, kamu akan ketagihan."

Saya hampir terpekik kaget saat jari-jari Kakek tiba-tiba menusuk-nusuk lubang anusku. Rasanya agak sakit, tapi juga nikmat.

"Oh, sempit sekali lubangmu, Rob. Kakek pasti akan menikmatinya," bisik Kakek di telingaku.

Bibir Kakek lalu melekat pada bibirku. Ciumannya maut sekali. Baik bibir maupun lidahnya, kedua mampu membangkitkan birahiku. Bibirku disedot-sedot dan lidahku dijilat-jilat. Darimana Kakek mendapatkan ilmu berciuman sedahsyat itu?

"Aahh.. Oohh.. Hhoohh..", desah Kakek sesekali.

Sementara Kakek sibuk menciumiku, Ayah beralih ke Paman. Dengan bernafsu, Ayah memeluk tubuh telanjang Paman dari belakang. Pamanku juga termasuk bibit unggul. Ketampanannya turunan dari gen Kakek. Sejak kecil, Paman sudha dibiasakan Kakek untuk berolahraga sehingga badan Paman juga tak mengecewakan. Dadanya bidang dan lebar, dengan dua puting yang tegang melenting.

Dada Paman memang mulus sekali, tapi di sekitar putingnya tumbuh buku-bulu halus. Paman hanya bisa mendesah-desah saat Ayah meremas-remas dadanya dari belakang. Kontol Ayah sejajar dengan lubang anus Paman, tapi Ayah belum mau menyodominya. Jelas sekali ayahku sedang terangsang berat, sebab kontolnya bocor dengan precum. Kontolku sendiri terus saja mengeluarkan precum, tak tahan disedot-sedot oleh mulut Paman.

"Oohh.. Hhoosshh.. Hhohh.. Oohh.." desahku, jantungku berdegup kencang.

Sedotan Paman memang top. Kurasakan pejuhku seakan-akan sedang dihisap keluar perlahan-lahan. Precum mengalir makin banyak dari kontolku ke dalam mulut Paman.

"Hhoohh.. Aahh.. Oohh.." Tubuhku mendadak kaku saat orgasme akan menjelang. Keringatku mengalir deras dari pori-poriku saat saya berjuang untuk menahan orgasmeku, tapi saya tak bisa. Sebentar lagi saya akan ngecret!
"Oohh.. Saya mau.. Ooh.. Ngecret!!" Seusai mengucapkan kalimat itu, kontolku meledak. Pejuh yang hangat dan lezat tumpah ruah ke dalam mulut Paman.
"Aargghh!! Oohh!! Aargghh!! Oohh!!" Sekujur tubuhku yang telanjang bulat mengejang-ngejang. Kakek memegangi tubuhku agar saya tidak terjatuh. Rasanya nikmat sekali ngecret di dalam pelukan kakekku yang seksi itu. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!!

Kakekku membelai-belai rambutku seraya berbisik, "Ya, keluarkan saja semuanya, Rob.. Aahh.. Jangan ditahan.. Aahh, yah, begitu. Ayo, tembakkan saja.. Oohh.. Kakek suka lihat kontolmu ngecret. Oh.. Ngecret saja terus.. Aahh.. Yyeeaah.."

Tubuhku dipeluk erat-erat; saya merasa aman dalam lindungan Kakek. Tubuhku terus saja mengejang dan bergetar sampai tetes pejuh yang penghabisan.

"Oohh.. Enak kan? Kakek bangga padamu, Robert.." Pipiku mendapatkan ciuman mesra dari Kakek sementara saya bernapas tersengal-sengal. Orgasme tadi adalah orgasme terhebat yang pernah kualami.

Kulihat Pamanku duduk bersila di ranjang, tubuhnya pun bersimbah keringat. Paman nampak jauh lebih seksi saat bertelanjang bulat. Noda-noda pejuhku tampak menghiasi bibir dan dagunya.

"Enak banget pejuh loe, Rob. Gue suka banget.."

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saya mendekati pamanku dan menghadiahkan sebuah ciuman di pipinya. Ciuman yang sangat sarat dengan nafsu. Pamanku menyambutnya dengan penuh nafsu juga. Kami berangkulan dan saling mencium. Ayah dan Kakek hanya memandang aksi kami dengan senyuman lebar.

"Kini saatnya kamu untuk diinisiasi, Robert", kata Ayahku saat Paman dan saya selesai berciuman.

Ayahku membimbingku turun dari ranjang. Saya diposisikan telentang di atas lantai, dengan beberapa bantal untuk menyangga pinggulku. Jantungku berdebar-debar, menanti saat-saat ketika ayahku akan menyodomiku. Saya memang belum pernah menyaksikan film porno gay ataupun foto-foto gay, tapi bisa kubayangkan betapa sakitnya disodomi dngan kontol besar milik ayahku.

Saya merinding sedikit, membayangkan derita yang harus kulalui. Tapi nafsu masih membungkusku; saya ingin sekali disodomi. Lagipula, sudah tugasku sebagai anak yang patuh untuk membahagiakan ayahku. Ayahku berlutut di sampingku, tangannya mengelus-ngelus dadaku yang berkeringat.

"Aahh.. Oohh.. Hhoohh.." erangku saat ayahku memasukkan jarinya ke dalam anusku.
"Kamu masih ketat," komentar ayahku puas.

Selama beberapa menit, Ayah menyodomiku dengan jarinya. Tujuannya agar saya terbiasa. Mula-mula, memang terasa sangat tidak nyaman. Terbaring di lantai yang dingin, saya hanya bisa mengerang-erang, merasakan jari ayahku menghajar anusku. Semakin lama, ritme ngentotnya menjadi cepat. Napasku tersengal-sengal, menikmati sodokan jarinya itu.

"Kamu akan membuat Ayah senang dengan pantatmu, Rob. Ayah cinta padamu", sambung ayahku sambil mendaratkan sebuah kecupan manis di keningku.

Napasnya yang berat dan menderu terdengar keras di telingaku. Ayah terus menyodomiku dengan jarinya sambil tersenyum mesum padaku.

"Kamu pasti akan suka dengan kontol Ayah, Robert.." Ayah sengaja menggoyang-goyangkan kontol ngacengnya di dekatku. Mataku bergerak mengikuti gerakan kontolnya.

Kontol Ayah memang indah. Tegak, tinggi menjulang, bersunat, dengan kepala berbentuk seperti helm baja. Precum telah membuat kepala kontolnya berkilauan, tertimpa cahaya lampu. Kontol itu berdenyut-denyut, nampak hidup. Penampilan kontol itu begitu memukau sehingga aku merasa bahwa aku harus memegangnya. Tanganku agak bergetar saat saya mencoba untuk menjamah kontol itu.

Namun saat kontol hangat itu berada di dalam genggaman tanganku, saya merasa tenang dan bahagia. Kontol itu akan memberi kebahagiaan padaku. Ayahku hanya tersenyum padaku, menyaksikan betapa saya menyukai kontolnya. Pelan-pelan, saya mencoba untuk mengocok-ngocok kontol ayahku. Nampak bahwa ayahku menikmatinya sekali sehingga dia tak henti-hentinya mengerang.., "Oohh.. Aahh.. Hhoohh.."

Kakek dan Paman segera bergabung dengan kami. Kakek, berlutut, memposisikan kontolnya di dekat kepalaku sementara Paman duduk di dekat kontolku. Saya yang sedang terbaring merasa semakin terangsang. Tiga orang pria bibit unggul yang notabene adalah keluarga kandungku sendiri akan menghomoiku ramai-ramai.

Kakek berkata, "Robert, kamu akan disodomi ramai-ramai secara bergantian. Ayahmu akan melakukannya terlebih dahulu karena kamu lahir dari spermanya. Setelah itu, Kakek dan Paman akan menyodomimu. Kami bertiga akan ngecret di dalam tubuhmu. Sperma kami akan menyatu dengan tubuhmu dan selamanya kamu akan selalu ketagihan untuk menjadi seorang homoseksual. Apakah kamu siap, cucuku?"

Tak ada lagi keraguan di hatiku, saya siap diinisiasi menjadi seorang homoseksual. Anggukanku sudah cukup untuk menjadi sebuah jawaban ya.

"Aarrgghh.." erangku saat Ayah mencabut jarinya.

Untuk sesaat, saya merasa kosong dan hampa, rindu akan kehangatan jarinya. Kulihat ayahku mulai mengambil posisi. Kedua kakiku diangkat tinggi dan ditaruh di atas pundaknya yang kokoh. Anusku terekspos, berdenyut-denyut menanti kontol ayahku. Agar mudah mengentot, ayahku memutuskan untuk duduk di lantai. Badanku lalu ditarik ke arahnya.

"Oohh.." desahku saat kepala kontolnya menyentuh anusku. Kekerasan batang kontolnya terasa sekali, seperti batang baja.
"Aahh.." desahku lagi saat kubayangkan kontol itu menembus masuk ke dalam tubuhku.
"Anakku, Ayah masuk, yach? Tahan saja sakitnya. Nanti juga akan terasa nikmat sekali, kok.."

Mata ayahku menyala-nyala dengan kobaran api birahi. Air liurnya hampir menetes keluar saat dia melihat tubuhku yang seksi telentang bugil di hadapannya. Ketika Ayah mulai mendorong kontolnya, saya hanya dapat menahan napas sambil melingkarkan kakiku kuat-kuat di lehernya, bersiap untuk menahan rasa sakit.

"Oohh.. Pantatmu sempit banget, Rob.. Hhoohh.." erang ayahku, wajahnya meringis menahan nikmat.
"Hhoohh.. Aahh.." erangku saat lubang anusku dipaksa masuk oleh kontol ayahku.

Lubang yang sempit itu pelan-pelan membuka akibat sodokan kontol itu. Semakin lebar anusku terbuka, semakin sakit rasanya. Rasa sakit itu datang karena pergesekkan antara kontol ayahku dan anusku yang sama sekali tak berpelumas.

"Aarrgghh.. Sakit, Yah.. Oohh.. Perih.. Aahh.." rintihku, air mataku berlinang. Rasanya seperti sedang dibelah dua oleh kontol itu.
"Aarrgghh.."
"Tahan, Nak. Rasa sakit itu akan hilang," hibur Paman, mengelus-ngelus dadaku.
"Paman dulu juga begitu. Tahan saja dan kamu akan terbiasa.."

Tangannya sengaja bergerak ke kontolku yang masih ngaceng. Kemudian, kontolku dikocok-kocok agar saya merasa nikmat. Meskipun Paman terdengar bersimpati padaku, namun wajahnya nampak sangat bergairah melihat kesakitan yang kuderita. Seakan-akan, semakin saya mengerang kesakitan, semakin terangsang pamanku. Dari sudut mataku, kulihat kontol Paman berdenyut sambil melelehkan precum. Kakek juga menghiburku..

"Jangan dilawan. Buka anusmu dan biarkan ayahmu memasuki tubuhmu, Robert," sarannya.

Tangannya yang kasar meraba-raba wajahku, kontol ngacengnya bergoyang-goyang tepat di atas wajahku. Untaian precum menetes dari lubang kontol kakek dan jatuh menempel ke atas wajahku.

"Hisap kontol Kakek saja, yach."

Sebelum saya sempat berkata apa-apa, kontol Kakek sudah masuk ke dalam mulutku yang menganga. Rasanya aneh tapi saya tak sempat memikirkannya sebab saya sedang sibuk menahan sakit di anusku. Kakek tidak memaksaku untuk segera menghisap kontolnya, dia cukup puas hanya dengan menitipkan kontolnya ke dalam mulutku yang hangat dan basah.

"Hhoohh.." desahnya, memilin-milin putingnya sendiri.
"Aarrgghh.." erangku lagi saat kepala kontol ayahku masuk sedikit lagi.
"Oohh.." Ayah nampak bersemangat sekali. Anus sempitku menjadi tantangan yang luar biasa baginya. Dan tiba-tiba, kepala kontol itu akhirnya bisa masuk seluruhnya.
"Aarrgghh.." erangku, bibir anusku menjepit batang kontolnya.

Ayahku sengaja mendiamkan kontolnya selama beberapa saat supaya saya terbiasa. Napasku agak tersengal-sengal, keringat kembali bercucuran.

Sambil membelai wajahku, dia berkata, "Ayah bangga padamu, Rob. Sekarang, Ayah genjot yach."

Kupandangi wajah ayahku dengan mata berkaca-kaca. Mendengar betapa bangganya ayahku terhadapku membuatku terharu.

"Ayah, genjot saja. Saya siap, kok. Saya ingin memuaskan, membahagiakan, dan mencintai Ayah.."

Dan dengan itu, Ayah mulai menggenjot pantatku. Kurasakan batang kejantanannya itu bergerak keluar masuk. Mula-mula terasa sakit sekali karena bibir anusku teriritasi. Rasa perih seperti terbakar menyiksa anusku.

"Aarrgghh.. Oohh.. Aarrgghh.." erangku, sedikit menggeliat-geliat.

Pamanku langsung siap untuk menolongku. Dengan sigap, kontolku langsung ditelannya. Hisapan Paman memang laur biasa. Rasa nikmat yang diberikan oleh lidahnya dan bibirnya membuatku lupa akan rasa sakitku. Kontolku berdenyut-denyut, membocorkan precum ke dalam mulut Paman. SLURP! SLURP! Suara hisapannya terdengar keras. Mau tak mau, saya mengerang-ngerang kenikmatan, lupa akan rasa perih di anusku.

"Aarrgghh.. Aarrgghh.. Oohh.." erang Ayah, merem-melek.

Otot-otot tubuhnya berkontraksi seiring dengan ritme ngentotnya. Bisepnya menguat dan dadanya menegang. Otot-otot perutnya nampak lebih kotak-kotak dari biasanya. Keringat yang membasahi tubuhnya itu menambah rangsangan visual, membuatku kehabisan napas. Ayah berusaha menggenjot tubuhku dengan ritme yang cepat. Anusku mulai melonggar, terbiasa dengan besarnya kontol ayahku itu. Namun rasa perih dan terbakar itu masih tetap ada.

"Aarrgghh.. Sempit sekali kamu.. Oohh.. Ayah mau ngentot sama kamu, Rob.. Aarrgghh.. Tiap hari.. Oohh.. Kamu suka kontol kan? Aarrgghh.. Rasakan kontol Ayah.. Oohh.." Agar bisa berbicara, saya mengeluarkan kontol Kakek dari mulutku.
"Aarrgghh.. Oohh.. Enak banget, Yah.. Aarrgghh.. Ngentotin saya terus.. Oohh.. Jangan stop.. Aarrgghh.. Saya butuh kontol.. Aarrgghh.. Kontol Ayah.. Oohh.."

Tubuhku terguncang-guncang, disodomi ayahku kuat-kuat. Dan perlahan, sensasi baru timbul dalam diriku. Rssa nikmat membungkus tubuhku setiap kali kontol Ayah menghantam sesuatu di dalam tubuhku. Tubuhku bergetar sedikit dan merinding karena rasa nikmat yang luar biasa itu. Dan kenikmatan itu berlangsung terus-menerus, setiap kali kontol Ayah menghajar anusku.

"Aarrgghh.. Oohh.. Aarrgghh.." Tubuhku agak mengejang dan Ayah tahu apa yang saya rasakan. Maka dia semakin keras menyodomiku.
"Aargghh!! Fuck! Oohh!! Ngentot! Aarrgghh!!"

Kakek hanya bisa mengocok-ngocok kontolnya saja, menyaksikan adegan mesum di depannya. Ingin bergabung, Kakek kembali menyodorkan kontolnya padaku.

Kali ini dia berkata, "Sedot kontol Kakek. Isap yang kuat, jilat kepalanya, dan buat Kakek ngecret.."

Tanpa mengeluh, saya menerima kontol itu kembali di dalam mulutku. Kali ini, terasa sedikit asin. Oh, rupanya Kakek sudah mengeluarkan precum. Asin, tapi enak juga. Saya memang belum pernah menghisap kontol, tapi saya berusaha mencontoh apa yang dilakukan Paman pada kontolku.

"Aahh.." desah Kakek saat lidahku menggelitik-gelitik bagian bawah kepala kontolnya.

Selanjutnya, kukerahkan tenagaku untuk menghisap batang kontol itu. Kubayangkan bahwa kontol itu adalah sebuah sedotan raksasa. Hisapanku membuat mata Kakek merem-melek. Desahan demi desahan terus dikeluarkannya.

"Aahh.. Hhoohh.. Oohh.."

Saya sendiri ingin mendesah tapi desahanku tertahan oleh kontol Kakek. Rasa nikmat yang teramat sangat menyelubungi tubuhku. Kontolku sedang dihisap Paman, pantatku sedang dingentot Ayah, dan saya sendiri sedang sibuk menghisap kontol Kakek. Tiga kenikmatan sekaligus.

"Mmpphh.. Mmpphh.. Mmpphh.." Hanya itu yang dapat kusuarakan.

Walaupun tadi saya sudah ngecret, namun saya ingin ngecret kembali. Kontolku berdenyut lebih cepat saat orgasmeku mendekat. Paman makin bersemangat menyedotku, tahu bahwa saya akan ngecret lagi. Oh, dapat kurasakan orgasmeku mendekat lagi.. Aahh.. Yyeaahh.. Tapi, tiba-tiba Paman berhenti menyepong kontolku. Saya tentu saja kecewa sekali.

"Oohh.. Kakek mau keluar.. Oohh.." Dan kemudian tubuh seksi Kakek bergetar hebat, mengejang-ngejang.

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Pejuh Kakek membanjir keluar, masuk ke dalam mulutku. Itu pertama kalinya saya mencicipi pejuh. Rasanya memang agak aneh dan pahit, tapi makin banyak yang kutelan, pejuh itu makin terasa enak. Mm.. Kujilati kepala kontol Kakek sementara dia mengerangkan orgasmenya.

"Aargghh!! Aarrgghh!! Uugghh!!"

Kakek yang sudah puas berorgasme memainkan-mainkan kontolnya di mukaku. Pejuhnya habis kujilat. Sodokan-sodokan bertenaga dari kontol Ayah membangkitkan dorongan orgasme sehingga saya merasa bahwa saya bisa ngecret tanpa dicoli.

"Aahh.. Oohh.. Aarrgghh.. Ayah.. Saya sampai.. Oohh.." Saya menggeliat-geliat tapi Ayah memegangi pinggangku kuat-kuat.
"Oohh.. Keluarkan saja, nak.. Aahh.. Ngecret saja lagi.. Oohh.." desak Ayah sambil tetap menyodomiku. Kedua tangannya lalu pindah ke bagian dadaku, meremas-remasnya seperti adonan. Rasanya nikmat sekali, membuatku makin ingin mengerang.

Sementara itu, dorongan orgasmeku semakin besar. Kurasakan kontolku makin menegang dan basah. Genangan precum timbul di pusarku, hasil tetesan kontolku. Akibat sodokan kontol Ayah, genangan itu tumpah ke lantai, menuruni sisi perutku.

"Aahh.. Ayah.. Oohh.. Ayah.."

Sambil menahan laju orgasmeku, kupandangi wajah ayahku yang ganteng itu, dan dia mengangguk. Dengan itu, kulepaskan orgasmeku.

"Aarrgghh..!! Oohh..!! Aargghh..!! Oohh..!!"

Semburan kontolku masih terasa kuat walaupun saya barusan sudah ngecret. Ccrrott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Perutku yang agak kotak-kotak berkontraksi hebat, terasa kaku dan ngilu untuk beberapa saat. Saya mengerang, mendesah, menggeram sementara kontolku terus saja menyemportkan pejuh ke atas tubuhku. Kakek dan Paman menyorakiku, memberiku dorongan untuk ngecret lebih banyak lagi.

"Aahh.." desahku saat kontolku lemas, tak berdaya lagi.

Melihatku berogasme, Ayah terdorong untuk memuncratkan pejuhnya ke dalam tubuhku. Anusku berdenyut-denyut, memerah kontol Ayah. Saya ingin Ayah segera ngecret di dalam tubuhku. Saya ingin bersatu dengan Ayah selamanya.

"Aargrghh.. Rob.. Ayah mau ngecret.. Oohh.. Terima pejuh Ayah.. Aahh.."

Muka Ayah diwarnai dengan ekspresi kenikmatan; kedua matanya terpejam menahan orgasme yang akan segera menguasainya. Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Kepala kontol Ayah berdenyut-denyut dengan liar.

"Aarrgghh!! Oohh!! Aahh!! Uugghh!!"

Banjir pejuh menyerang perutku. Cairan panas ditembakkan jauh ke dalam ususku, terasa panas membara. Kurasakan sperma Ayah saling berebut untuk berenang lebih dalam ke dalam perutku. Tubuhku mulai menyerap sperma-sperma itu, sebagian masuk ke aliran darahku dan berenang-renang. Ayah dan saya telah menyatu. Memikirkan benihnya berada di dalamku membuatku terangsang lagi.

Ayah menarik kontolnya keluar dari pantatku. Napasnya memburu dan tersengal-sengal, tubuhnya basah bermandikan keringat. Ayah lalu menjatuhkan tubuhnya ke arahku, memelukku dengan erat. Ciumannya menghujani wajahku. Saya menyambut ciumannya dengan antusias. Kurasakan tubuhnya yang kuat dan berotot begitu dekat denganku.

"Rob, Ayah bangga denganmu. Kamu dan Ayah kini sudah menyatu, Rob. Sperma Ayah ada di dalam perutmu, sperma yang dulu menciptakanmu. Oh, Robert, Ayah sayang sekali padamu.."
"Saya juga mau mencoba ketatnya pantat cucuku," protes Kakek, karena dari tadi dia belum mendapat giliran. Maka Ayah pun dengan senang hati menyingkir.

Belum sempat saya memulihkan tenagaku, saya sudah digulingkan ke samping. Dengan posisi tertelungkup di atas lantai yang dingin, saya bersiap-siap untuk menerima kontol Kakek yang besar. Kulihat Paman mendekati Ayah yang masih terengah-engah. Mereka berdua saling berpelukkan dan berciuman dengan sangat sensual. Pelan-pelan, kontolku yang terperangkap di antara tubuhku dan lantai mulai mengeras lagi. Kemudian kurasakan Kakek menaiki tubuhku. Badannya terasa agak berat karena masih kuat dan agak berotot.

"Aarrgghh.." erangku saat kepala kontol Kakek mulai menyeruak masuk ke dalam anusku yang sudah mulai longgar. BLES..
"Oohh.. Yyeaahh.." desahku, seperti seorang pria murahan.
"Oorrghh.. Sempit banget, Rob.. Oohh.." erang Kakek sambil terus mendorong kontolnya hingga akhirnya masuk semua.

Pangkal kontolnya bersentuhan dengan belahan pantatku. Saya merasa penuh sekali. Pejuh Ayah sangat membantu penetrasi Kakek sehingga saya tidak merasa terlalu kesakitan. Anusku juga sudah mulai bisa beradaptasi, menerima kontol. Sengaja kukencangkan anusku agar kontol Kakek terperas. Erangan keras Kakek mengatakan semuanya; dia memang sangat menikmatinya.

"Oohh.. Sudah lama Kakek ingin ngentot sama kamu, Rob.."

Saya sama sekali tak keberatan dengan kata 'ngentot' yang diucapkan Kakek; malah jadi semakin terangsang. Saat kontol Kakek mulai mengerjai anusku, saya hanya bisa mengerang-ngerang keenakkan. Sekali lagi, prostatku dirangsang. Kembali, sensasi nikmat menyelubungi tubuhku.

"Aarrgghh.. Kek.. Genjot terus.. Oohh.. Enak banget.. Uugghh.. Ngentot.. Oohh.. Fuck me.. Aarrgghh.." Saya terus menyemangati Kakek agar mengentotku lebih keras lagi. Usahaku berhasil karena Kakek mempercepat genjotannya. Kubayangkan seolah-olah saya dapat melihat anusku sendiri yang sedang dihajar oleh kontol Kakek. Oh, sungguh merangsang..

"Aarrgghh.. Aarrgghh.." Precum mengalir lagi dari kontolku yang berlumuran pejuh.

Lantai di bawahku terasa semakin licin, diolesi cairan kelaki-lakianku. Tubuhku digenjot habis-habisan oleh Kakek. Sesekali Kakek menekan tubuhku terlalu keras sampai-sampai saya merasa kehabisan napas. Tapi saya suka dengan permainan seks Kakek yang beringas. Kakek memang tua-tua keladi, makin tua makin menjadi. Tak kusangka Kakek bisa sejantan itu dalam hal ngentot.



"Oohh.. entot pantatku, Irwan.. Aahh.. Kakakmu butuh bantuanmu.. Aarrgghh.." Paman mencoba segala upaya agar Ayah kembali terangsang dan sudi mengentotnya. Tak kusangka Paman suka dientot juga, padahal tampangnya macho sekali.

Ayah dari tadi memperhatikan ekspresi wajahku yang nampak kebingungan, maka tanpa ditanya, Ayah langsung menjelaskan.

"Pamanmu ini memang suka dientot, Rob. Tapi hal itu tidak mengurangi kejantanannya. Dan Ayah yakin, kamu juga tidak mau dianggap lemah dan kurang jantan hanya karena kamu suka dientot, bukan?" Wajahku memerah, omongan Ayah memang benar dan masuk akal.
"Pria sejati memang seharusnya mau mengentot dan juga mau dingentot. Itu namanya saling memberi dan saling menerima. Kapan-kapan, kamu juga boleh ngentotin pantat pamanmu ini. Dan Ayah juga pasti mau mencoba kontolmu di pantat Ayah. Sudah lama Ayah tidak disodomi. Sekarang, kamu nikmati saja kontol Kakek, sementara Ayah mau ngentotin pamanmu."

Paman tersenyum mesum saat Ayah menepuk pantatnya. Itu adalah kode agar Paman segera mengambil posisi nungging. Dengan patuh, Paman ber-doggy-style di atas lantai, tepat di depanku. Wajah kami saling berhadapan sehingga saya akan dapat menyaksikan ekspresi nikmatnya saat dia disodomi oleh Ayah.

"Oohh.." erangnya saat bibir anusnya terbuka dan dipaksa untuk menelan kontol Ayah.

Dengan mudah, kontol itu masuk seluruhnya. Tidak heran berhubung Paman sudah sering disodomi Ayah dan Kakek sejak dia masih seusiaku.

"Aarrgghh.." Wajah Paman menyeringai seperti orang kesakitan. Tapi bukan rasa sakit yang sedang mendera tubuhnya, melainkan rasa nikmat yang amat teramat sangat, tak terlukiskan.
"Oohh.. Kontolmu besar sekali, Irwan.. Oohh.."
"Uugghh.. Tapi Kakak suka kan?" tanya Ayah, sengaja menyodokkan kontolnya lebih keras agar Paman bisa merasakannya.

Erangan-erangan nikmat dari kami berempat memenuhi kamarku. Suasana mulai terasa pengap karena panasnya permainan seks kami. Tubuh kami berempat bersimbah keringat, precum, dan pejuh. Pandanganku mulai kabur karena bulu mataku basah dengan keringat. Tak terasa sudah hampir lima belas menit, saya dan Paman dientot. Paman nampak sangat bergairah akibat sodokan kontol Ayah, dan terus saja menyemangati Ayah.

"Ayo Irwan.. Oohh.. Fuck my ass.. Aarrgghh.. Fuck.. Oohh.. Lebih dalam.. Aarrggh.. Yyeaahh.. Oohh.. Enak banget.. Aarrgghh.. Oohh.."

Ayah juga mengentot Paman lebih keras, seperti sedang mengendarai seekor kuda. Paman sampai berteriak-teriak karena nikmat.

"Aarrgghh!!"

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Tanpa menyentuh kontolnya, Paman ngecret.

Banyak sekali pejuh yang tertumpah dari kontol ngacengnya. Pejuh Paman menyemprot keluar dan jauh ke depan. Beberapa kali malah muncrat di wajahku. Buru-buru kubuka mulutku lebar-lebar agar pejuh paman bisa mendarat di dalam mulutku. Ah, enak sekali. Sisa pejuh yang menempel di sekitar bibirku kujilat habis. Rasanya agak pahit, tapi tetap enak dan nikmat karena dihasilkan dari kontol.

Paman langsung roboh ke atas lantai, ditimpa oleh Ayah. Meskipun Ayah belum ngecret, dia memutuskan untuk berhenti mengentot Paman karena nafsu Paman sudah terpuaskan. Kakek semakin terangsang melihat Paman ngecret, dan hal itu memicunya untuk ngecret juga.

"Oohh!! Aarrgghh!! Oohh!! Aahh!!"

Kontolnya bergerak keluar masuk lubang pantatku sambil terus menyemburkan pejuh panas. Ccreett!! Ccrroott!! Ccrroott!!

"Uugghh!! Oohh!!" desah Kakek saat kontolnya tercabut keluar. Namun Kakek masih belum selesai ngecret maka dia asal-asalan menyodokan kontolnya ke dalam belahan pantatku. Kontolnya memang tidak masuk kembali ke dalam anusku, namun belahan pantatku sudah cukup menstimulasinya sehingga Kakek puas. Saya terbaring lemas di atas lantai yang berlumuran pejuh dan precumku. Kontol Kakek memang luar biasa, namun saya terlalu capek untuk ngecret.

Kakek mencium bibirku sebentar lalu bangkit berdiri. Kontolnya bergoyang-goyang sambil menodai lantai dengan sisa pejuh saat Kakek berjalan keluar. Ayah segera bangun dan mengikuti Kakek. Nampaknya mereka memang sengaja meninggalkanku berduaan saja dengan pamanku. Paman memandangiku dengan pandangan mesumnya seakan bertanya 'Masih mau dientot?'.

Meskipun saya sudah lemas, namun saya tetap merindukan sensasi nikmat akibat dientot. Maka kuanggukkan kepala sambil tersenyum malu. Pamanku langsung bangkit berdiri dan menghampiriku. Kontolnya mulai menegang lagi, membayangkan nikmatnya mengentot denganku. Kupandangi kontolnya dengan tatapan penuh harap, ingin mencoba rasanya.

Dengan kekuatannya, Paman memapahku dan membaringkanku di atas ranjangku. Saya merasa seperti pacarnya saja. Dengan lembut dan mesra, Paman mencumbuiku. Bibirku dicium-cium sementara lidahnya menyelinap masuk. Kedua tangannya memeras-meras dadaku yang bidang. Putingku tak luput dimain-mainkan olehnya.

"Hhoohh.. Hhoohhsshh.. Oohh.." desahku, birahi mulai bangkit. Bersamaan dengan itu, kontolku bangun dan mulai berdenyut-denyut kembali.

Kupeluk tubuh pamanku dan kubalas ciumannya. Kami berguling-guling di atas ranjang seperti pasangan pengantin baru. Kutatap mata Paman dan kulihat gelora nafsu di dalam sana. Paman ingin bercinta denganku. Seperti layaknya seorang kekasih, Paman mengambil tangan kananku dan kemudian menciumnya seraya bertanya..

"Robert sayang, boleh nggak Paman bercinta denganmu?" Saya mengangguk-ngangguk, antusias.
"Boleh, Paman. Robert bersedia disodomi Paman."
"Keponakanku yang tersayang," ucap Paman seraya menciumiku lagi.

Kedua kakiku dilebarkan agar anusku terbuka. Lubang pantatku memang sudah mulai kelihatan longgar. Bibir anusku agak bengkak sedikit akibat penetrasi Ayah. Noda-noda pejuh masih tampak di sekitar anusku, sebagian mulai mengering dan menjadi kerak.

"Ah, Paman terangsang melihat anusmu, Rob. Paman masukin yach?" Dan saya kembali mengangguk. Dengan posisi berlutut, Paman mencoba untuk memasukiku.
"Aargrghh.." erangnya.
"Oohh.. Sempit banget, Rob.. Hhoohh.."

Sambil menggeram kecil, Paman mendorong kontolnya dan.. PLOP! Kepala kontolnya sudah masuk. Anusku mulai berdenyut-denyut penuh gairah, tak sabar untuk segera disodomi Paman.

"Aarrgghh.. Yyeaahh.. Paman.. Nikmat sekali.. Oohh.. Ayo, Paman.. Robert udah nggak tahan lagi.. Oohh.. Saya mau dingentot.. Oohh.. Paman.." desahku, menggapai-gapai tubuh Paman.

Ah, seksi sekali melihat tubuhnya sambil berbaring. Sejak dulu, saya memang suka sekali dengan Paman. Tak pernah terpikirkan bahwa saya akan sedekat ini dengan Paman dan bahkan disodominya.

"Aarrgghh.. Oohh yeeaahh.." Sengaja kulingkarkan kedua kakiku di pinggang Paman dan menariknya mendekati tubuhku. Paman menurut saja. Dengan demikian, dia bisa mengentot dan sekaligus menciumku.

Tetesan keringat Paman jatuh ke atas tubuhku. Tubuhku sendiri kembali berkeringat. Kontol Paman sama enaknya dengan kontol Ayah dan Kakek, besar dan panjang. Prostatku kembali menjadi bulan-bulanan, disodok-sodok. Orgasmeku mulai meningkat, sedikit demi sedikit. Kuremas dada Paman dan kupelintir-pelintir putingnya. Pamanku keblingsatan dan makin bergairah. Sodokannya terasa menguat dan desahan napasnya semakin memburu.

"Oohh.. Rob, Paman mau ngecret.. Hhohh.. Bersiaplah.. Aarrgghh.."

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Kontol Pamanku berdenyut-denyut, menyemprotkan cairan kejantanannya. Pejuhnya tersemprot masuk, bercampur dengan pejuh Ayah dan Kakek.

"Aarrgh!! Aarrgghh!! Aarrgghh!!" Tubuhnya bergetar dan berguncang-guncang seperti banteng ngamuk. Cengkeramannya menguat saat orgasme sedang menguasainya.
"Oohh!! Uugghh!! Aarrgghh!!" Saat kontolnya selesai berejakulasi, Paman lemas dan menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Dia terengah-engah sambil memandangku.

Berbaring telanjang bulat di samping Paman yang sudah kuidolakan sejak kecil membuatku tak tahan untuk tidak ngecret. Segera kukocok-kocok kontolku yang sudah tegang dan basah. Bekas pejuhku membuat kocokanku makin licin dan enak.

"Oohh.. Hhoohh.. Hhoosshh.."

Terus dan terus kukocok kontolku. Paman merangsangku dengan memain-mainkan dadaku, sambil membisikkan kata-kata yang merangsang.

"Oohh.. Paman.. Mau sampai.. Aarrgghh.. Paman.. Oohh.. I love you.. Aarrgghh.."

Ccrroott!! Ccrroott!! Ccrroott!! Seluruh otot tubuhku berkontraksi hebat saat pejuhku dimuntahkan keluar. Ini adalah ejakulasiku yang ketiga dan benar-benar nikmat, meskipun semburannya agak lemah dibanding ejakulasi pertama.

"Aargghh!! Uuggh!! Hhoohh!!" Berkali-kali, pejuh kumuntahkan lagi dan lagi dan lagi.. Sampai akhirnya berhenti sama sekali. Paman melingkarkan tangannya di bahuku dan menciumiku dengan mesra. Kubalas ciumannya sambil memeluk tubuhnya.

"Oohh.. Keponakanku, i love you" bisik Paman.
"I love you too, Uncle", balasku.

*****

Menurut pandangan umum, terutama dari kaum wanita, bahwa pria akan langsung tidur setelah seks mungkin benar, karena Paman dan saya langsung ketiduran. Seks tadi benar-benar melelahkan, tapi nikmat sekali.

Sejak saat itu, hidupku berubah menjadi lebih baik. Ayah, Paman, dan Kakek berhasil membangunkan sisi homoseksualitasku yang sudah tertidur lama. Kini saya lahir kembali sebagai seorang pria homoseksual dan saya tidak menyesalinya. Setiap hari, kami berempat saling mengentot dan memuncratkan pejuh. Saya bahagia menjadi bagian dari keluarga ini, keluarga Budiman.

4 komentar:

dewa cinta mengatakan...

seru juga tu mana vidioya

Abdurrahman Ahmad mengatakan...

luaaaar biasa,,,hmmm bikin air maniku jugak brkali2 kluar membacanya...aku sukaaaa skali orang tua,pingiiinnyoba ngentotin kakek,paman sama ayah tuh skalian kucoba jugak utk di entot dan minum air maninya...hmmm seru

fransiscus antonius mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
fransiscus antonius mengatakan...

Irfan:Mulai tgl 01 Des 2014,Hub: 085701128346.Cari teman yg betul2 serius&g buat maen2 yg umur nya 12-17 thn khusus SMP cowox Gay/Normal se Indonesia & 18,19&20 thn,selain umur diatas tdk melayani, selama 24 jam nonstop.(Jakarta,Tangerang,Bogor,Banteng,Pati,Jepara,Klaten,Demak,Cirebon,Cianjur,Garut,Gresik,Ngajuk,Ngawi,Malang,Blitar,Surabaya,Purbangglinga,Purbolinggo,Purwakarta,Purworejo,Wonogiri,Semarang,Magelang,Muntilan,Jogjakarta,Bantul,Sleman,Bonjornegoro,Trenggalek,Madura,Madiun,Salatiga,Solo,Boyolali,Kupang,Mataram,Subang,Aceh,Medan,Bengkulu,lampung,Riau,Batam,Bangka Belitung,Lampung,Palembang,Banjarmasin,Pontianak,Palangkarya,Palu,Kendari,Ambong,Jayapura,Biak,Malaysia,&Luar Negeri)^

Poskan Komentar

 
Copyright © 2012 GAY INDO STORY. All rights reserved.