Rabu, 30 November 2011

Paman Yang Digagahi Keponakan

Namaku ALEXANDER, umur 23 TAHUN. Saat awal masuk kuliah di PTN di Surabaya sampai duduk di semester akhir, aku terpaksa hidup sendirian di kota besar ini, tapi beberapa bulan yang lalu kebetulan ada seorang Famili jauh Papa yang pindah ke Surabaya untuk bekerja disini, dia biasa kupangil OOM AWANG dan umurnya 35 TAHUN.

Walau dia saudara-jauh tapi waktu di kampung dulu kami cukup akrab dan sering ketemu dan terus terang!, sejak dulu aku memang mengagumi Oom Awang yang menurut pendapatku ganteng, dewasa, bijaksana dan baik sekali (sering nraktir).

Jangan salah mengerti!. Aku merasa COWOK NORMAL, tapi maklumlah, sebagai anak muda yang baru mulai kuliah di kota besar Surabaya, aku memang suka iseng iseng ikut diajak /DUGEM bersama beberapa temanku, tapi ditempat dugem begitu aku sering ketemu dengan oom-oom GAY yang merayu aku.

Mungkin karena masih berdarah muda dan penasaran, aku mau meladeni keinginan oom-oom gay dan para lelaki tua itu dan ternyata aku bisa menikmati hubungan SEKS SEJENIS dengan pria yang lebih tua.

Mungkin akibat pergaulan yang salah itu, atau mungkin sudah bawaanku; perilaku dan sikapku kadang kadang agak sensitif dan perasaanku jadi manja, tapi biar bagaimanapun aku tetap seorang laki laki MASKULIN yang cukup macho, lagipula diatas ranjang, aku hanya bisa dan lebih menyukai posisi sebagai seorang COWOK TOP atau pihak dominan sebagai lelaki yang menyetubuhi pasanganku.

RENNY CEWEKKU

Untuk menjaga keseimbangan naluri kelelakian, aku tetap berhubungan dengan CEWEK dan sekarangpun aku punya seorang pacar, teman mahasiswi bernama ANGGRAINI, dengan panggilan sayang: RENNY, yang sudah KUTIDURI beberapa kali. Renny memang BUKAN PERAWAN ketika aku pertama menggaulinya tapi dia sebenarnya seorang gadis baik baik yang cukup cakep dan gak malu maluin dibawa jalan.

Karena AKU dan OOM AWANG merasa masih BERSAUDARA, kami jadi makin sering ketemu dan makin akrab. Oom Awang jadinya seperti salah satu kakak atau teman yang paling dekat denganku dari pada teman yang lain, dia baik dan sangat perhatian kepadaku, bahkan tidak jarang ia mengantar jemput aku ke kampus atau membelikan keperluan kuliah.

Karena dia 12 tahun lebih tua dari aku, sering aku menanggap dia sebagai pengganti orang tuaku atau SEPERTI AYAHKU sendiri.

Semakin lama ia semakin baik padaku hingga aku sulit untuk menghindarinya. Ia seringkali mampir ke tempat kostku mulai pulang bekerja lembur sampai malam hanya untuk ngobrol dan bergurau. Aku sering curhat mengenai cewekku, RENNY kepada Awang walaupun dia BELUM PERNAH BERTEMU atau berkenalan dengan Renny..

Suatu hari timbullah permasalahan dengan cewekku, RENNY karena dia mulai mendesak aku untuk segera menikahi dia : “Aku minta kepastian kamu Andre” katanya (Renny memanggilku Andre, dari kata “alexANDER”, jadi Andre).

Sebenarnya aku mengerti keinginan Renny karena pergaulanku dengan dia sudah terlampau jauh tapi aku merasa belum siap, belum selesai kuliah dan ingin bekerja sampai mapan sebelum memutuskan untuk menikahi seorang wanita.

Ketika Renny ngotot dan mengancam untuk memutuskan hubungan bila aku tidak memberi kepastian, aku segera minta pendapat dan mengadukan permasalahanku kepada Oom Awang dan dia memberikan jalan keluar yang bijaksana. Oom Awang bilang kalau Renny minta putus, ya biarkan saja putus sehingga akhirnya hubunganku dengan Renny berakhir tanpa kesan apa apa.

Sejak putus hubungan dengan Renny, kemana-mana aku jadinya sering jalan bareng dengan Oom Awang yang saat itu juga sama sama JOMBLO. Jika liburan atau malam minggu kami menyempatkan keliling kota, ke toko buku, ke mall, ke tempat rekreasi, ke warnet dan ke tempat kost teman-teman. Sampai-sampai teman-temanku mengatakan kalo kami seperti AYAH dan ANAK, walau umur dia 35 tahun, sedangkan aku 23.

Terus terang, aku sebenarnya bertanya tanya apakah Oom Awang juga menyembunyikan KECENDERUNGAN rasa suka pada laki laki?. Mungkin saja!, karena pada umur 35 tahun dia masih jomblo!,

Tetapi dia sepertinya BELUM PERNAH menyalurkan hasratnya terhadap sesama jenis dan berhasil menjalani kehidupan yang NORMAL sehingga naluri itu akhirnya terpendam dan menghilang ke alam bawah sadarnya. Tapi aku sama sekali tak pernah menyinggung masalah itu karena takut dugaanku salah.

Hampir setiap malam minggu Oom Awang nginap di tempat kostku, pada akhir pekan jarang sekali ia tidur di tempat kost-nya sendiri. TAK ADA satupun teman kost yang bertanya tanya kenapa Awang lebih suka bermalam minggu bersama aku.

Bahkan sampai akhirnya dia juga memutuskan akan pindah ke tempat kostku habis semester ini. Akupun menyambut dengan hati gembira. Entah kenapa aku merasa senang dia ada di sampingnya, seakan keberadaannya menghapus semua keresahanku, kebosananku, dan rinduku pada keluargaku.

Setiap kali ia tidur disampingku perasaanku BIASA-BIASA SAJA, meski terkadang ada getaran lain yang menyelinap dalam hatiku apalagi kalau ia (tanpa maksud apa2) merangkulkan kaki dan tangannya ke atas tubuhku, aku hanya membalasnya dengan pelukan ringan, hanya sekedar menyalurkan kasih sayang, aku berusaha untuk menepis getaran-getaran itu.

Jika benar-benar tak tahan aku hanya berani menatap wajahnya yang dewasa dan ganteng sempurna sambil mendekap tubuhnya. Melihat sikapku seperti itu, ia hanya senyum melihat KEMANJAANKU lalu merangkul erat tubuhku, sampai bangunpun kadang posisi kami tetap seperti itu. Ia mengira aku butuh perhatian seorang AYAH. Sungguh ia benar-benar kakak yang aku harapkan, aayah yang mampu menaungiku dengan kasih sayang.

Tidak tahu kenapa, aku memang punya kecenderungan menyukai LELAKI YANG LEBIH TUA seperti Oom Awang, Mungkin itu karena aku ridu pada orang tuaku di kampung.

Hubungan persaudaraan yang aneh memang. Tapi saat itu aku memang ada semacam saling ketergantungan dan saling membutuhkan antara Oom Awang dan aku, sebagai teman, saudara, atau ayah.

Tapi entah bagaimana awalnya, lama lama timbul keinginan ganjil INGIN MEMILIKI Oom Awang hanya untuk diriku sendiri. Aku berubah jadi POSESIF. Ingin memiliki dia hanya untuk diriku!.

CEMBURU PADA CEWEKNYA OOM AWANG

Suatu hari Oom Awang bercerita kepadaku bahwa ia jadian dengan seorang cewek bernama ANGGI. Mendengar cerita itu hatiku HANCUR tak karuan, seakan ada yang mengoyak perasaanku. Aku tak tahu mengapa seperti ini, aku bingung apa sebenarnya yang ada dalam perasaanku.

Apakah ini karena aku khawatir Oom Awang tidak perhatian lagi padaku? Atau.. ini karena aku merasa memilikinya? Atau, karena aku CEMBURU?. Pertanyaan senada dengan itu mulai memenuhi otakku yang lagi galau. Oom Awang tampak asyik dengan ceritanya mengenai ceweknya ANGGI, aku hanya menanggapi dengan sikap yang biasa meski perasaanku pedih seakan tersayat pisau.

Setelah Oom Awang berangkat kerja, aku mengunci pintu kamar, kuputar album UNGGU band, kurebahkan tubuhku diatas kasur. Aku memikirkan Awang, tak kusadari aku melamun terus sepanjang hari dengan perasaan yang galau sampai tak terasa darahku mulai mendidih dan perasaanku TAK RELA kalau harus berpisah dengan dia.

Walau belum kenal cewek yang namanya ANGGI, tapi aku merasa cemburu pada dia dan aku marah pada Oom Awang karena merasa harapanku telah dikhianati Oom Awang. Tubuhku terasa lemas, pikiranku tidak stabil..

MENGAKU CINTA PADA OOM AWANG

Esok harinya pikiranku kacau balau tak karuan dan terbakar oleh kecemburuan sehingga setelah kuliah aku langsung pulang dan sampai dirumah sekitar pukul 20 malam. Iseng iseng aku memutar video seks yang ternyata malah membuatku kacau karena gairah dan darah mudaku bergolak tanpa penyaluran.

"LEXY... LEXY!"

Suara Awang dari luar pintu kamarku (sejak dulu dia biasa memanggilku “Lexy“).

Cepat-cepat kumatikan VCD dan aku berpura pura bersikap biasa, aku bingung apa yang harus aku lakukan, tapi akhirnya Awang menyadari perubahanan sikapku yang tidak biasanya, lalu dia berbaring disampingku.

"Lex! kenapa kamu?" Tanya Awang

Aku diam tak menjawab pertanyaan Awang

"Lex kenapa sih? Ayo dong bilang sama Oom!, Lexy sakit ya?". "Ayo ceritakan kenapa?" Awang mulai membujukku untuk mengutarakan masalahku.

Akhirnya aku nekad untuk berterus terang kepada Awang, apapun resikonya!. "Oom! Selama ini Oom Awang menganggapku seperti apa sih?" tanyaku ketus.

"Lho, memangnya kenapa? Kita kan bersaudara?, dan selama ini Oom menganggap Lexy sebagai keponakan yang aku sayangi, makanya Oom nggak rela kalau ada orang yang mengganggu Lexy, dan..apapun Oom lakukan untuk Lexy" Jawabnya yang membuatku tegar kembali.

"Benar Oom?".

"Benar, Sungguh." Ia menatap wajahku penuh kesungguhan. "Memangnya kenapa? Apa Lexy tidak percaya sama Oom Awang?"

"Enggak! aku hanya khawatir Oom Awang tidak lagi memperhatikanku, tidak menyayangiku dan meninggalkanku begitu saja, sebab sekarang Oom sudah punya kekasih Anggi." Jawabku pelan yang menutupi apa yang sebenarnya berkecamuk di hatiku.

DEGHHH...!, sedetik, terlihat wajah Awang dipenuhi tanda tanya mendengar nada “kecemburuanku”, tapi cepat cepat dia bersikap biasa.

"Oo.. jadi itu yang Lexy takutkan?"

Aku hanya mengangguk.

"Aku nggak seperti itu kok, aku dan Lexy tetap seperti ini, kalo soal Anggi jangan khawatir, tidak akan mengurangi kasih sayangku sama Lexy!" Ujar Awang.

Entah setan apa yang merasuki jiwaku tapi mendengar jawaban Awang, aku NEKAD MERANGKUL Awang yang berbaring di sampingku, ia membalas rangkulanku dengan rangkulan pula, PELUKAN BIASA antara seorang AYAH terhadap ANAKNYA yang sedang merajuk manja.

Tapi aku beringsut makin merapatkan tubuhku dan menyusupkan tanganku kebalik bajunya sambil meraba tubuhnya yang hangat dan kekar.

”Eeh...Eeh...!, apa apaan nih....?“ tanya Awang dengan penuh keheranan tapi sama sekali tanpa nada marah.

Aku tidak menjawab tapi terus berbaring di lidungan dadanya yang bidang sambil menyusupkan wajahku kedalam KETIAKNYA. Aroma keringat di ketiak Awang yang BERBARU KHAS LAKI LAKI JANTAN tercium menyengat hidungku dan amat memabukkan, membuat gairahku mendadak terangsang hebat.

Melihat kemanjaanku yang tidak biasa, Awang mulai CURIGA kalau sikapku terhadap dirinya selama ini sebenarnya bukan karena tali persaudaraan, tapi karena aku menyukai dirinya sebagai seorang laki laki.

Awang teringat bagaimana aku selalu bersikap manja terhadap dirinya, memandangi wajahnya atau membelai rambutnya; dan diapun beberapa kali memergoki pandangan mataku yang sedang menatap dirinya saat dia sedang bertelanjang sehabis mandi.

Aku nekad!. "Aku sebenarnya tidak hanya menyayangi Oom, tapi, aku juga mencintai Oom Awang, Seperti Anggi mencintai Oom, aku bukan cuma khawatir ditinggal Oom Awang, tapi aku cemburu berat" Aku berterus terang.

"Jadi?".

"Ya, aku mencintai Oom Awang dan ingin jadi pacar Oom Awang ". Jawabku yang berlanjut dengan ragu ragu.

Awang kini juga bingung dan serba salah setelah dia tahu siapa sebenarnya aku. "Lex benarkah itu?" tanyanya dengan perasaan bingung, ”tapi kita kan sama2 lelaki Lex?“ ujarnya lagi.

Aku mengangguk.

“Lagi pula aku LAKI LAKI NORMAL Lex“ "Maafkan saya, Lex! Oom sungguh tidak mengerti, Oom merasa Lexy seperti anak sendiri, Oom menyayangi Lexy tulus sebagai seorang Paman yang menyayangi keponakannya" sambungnya lagi.

"Ya Oom, saya tahu Oom Awang adalah lelaki normal yang hanya bisa mencintai dan dicintai wanita, inilah kenyataannya Oom, Aku merasa bahagia jika ada di samping Oom, Entahlah Oom...., dalam hatiku cuma ada Oom."

"Lexy nggak mau pacaran lagi sama cewek?". Tanya Awang

"Nggak!, Alex merasa tidak ada lagi getaran cinta seperti Alex mencintai Oom Awang" Jawabku.

”Tapi.... tapi..., Lexy sama sekali tidak kelihatan seperti Gay...?, Lexy gagah dan macho...“ tanyanya kebingungan. "Apakah Lexy tidak ingin menjadi lelaki sempurna seperti Oom?."

Sesaat aku bingung kenapa dia menyebut kata “Gay”?, karena dari tadi aku hanya bicara perasaan dan hatiku, tapi tidak menyinggung masalah ”gay”. Tapi aku hanya menggeleng: "Entah lah Oom.. sebenarnya sih pingin, cuma buat apa?."

Hati Awang bimbang menghadapi diriku saat itu. Sebagai seorang laki laki sejati yang normal, Awang sama sekali TAK TERTARIK melayani hasrat sesama jenis, tapi sebagai laki laki yang sudah berpengalaman menghadapi kaum wanita, Awang bisa melihat bahwa pandangan mataku yang sayu dan gelagat sikapku merupakan pertanda bahwa aku sedang kasamaran dan jatuh cinta.

MENGGODA PAMANKU

Aku tetap berbaring di samping Awang dan dia juga membiarkan aku tetap memeluk tubuhnya. Cuaca malam yang sejuk tidak mampu mendinginkan nafsuku yang sedang membara. Berduaan dengan orang yang kusayangi dan pengaruh VCD seks yang baru aku saksikan membuat nafsuku meluap minta dilepaskan.

Aku sudah biasa bermanja manja dengan dia sebagai Paman dan Keponakan. Tapi kali ini aku nekad untuk “mulai” mengambil inisitatif biarpun aku tahu kalau kali ini aku menginginkan dia sebagai laki laki!.

Lima menit berlalu sia-sia sebelum ku beranikan diri memeluk Awang dengan sebelah tanganku dan meletakkan kakiku melingkar di atas kakinya. Kurasakan detak jantungnya berdegup kencang ketika jariku merayap di dadanya. Semakin erat aku memeluk Awang yang diam tanpa reaksi. Kubelai rambut dan wajah ganteng didekapanku. Lalu tanganku merayap masuk kedalam kaus yang di pakainya dan dia mengelinjang pelan saat kupermainkan kedua putingnya.

Awang mendiamkan perbuatanku.

Awang mungkin KASIHAN atau TIDAK TEGA melihat keponakan yang dia kasihi sedang mendambakan dirinya sehingga diluar logika dan akal sehat sebagai laki laki yang normal, Awang bertekad untuk membahagiakan aku, apapun caranya!.

Tanganku menelusuri tiap jengkal dadanya. Kulitnya terasa begitu hangat membuatku ingin cepat-cepat menelanjanginya. Kuciumi rambutnya, turun ke pipinya, lehernya, dan terakhir kupermainkan telinganya dengan gigitan lembut.

WAH!, terjadi suatu keajaiban!. Awang merintih…. Dia ternyata bereaksi perlahan tiap kali merasakan nikmat dari perlakuanku.

Aku tidak tahu apakah dia terransang oleh perlakuanku atau sekedar pura pura untuk menyenangkan aku saja?.

"Oom Awang!" Bisikku pelan dengan suara parau menahan nafsu, sambil kuciumi pipinya.

Awang hanya menjawab dengan mendesah tanpa membuka mata. Kutarik kakiku keatas pahanya dan pahaku merasakan sesuatu benda yang menonjol di balik celana panjang dia. Sejenak ku mainkan pahaku di tempat itu dan kurasakan penisnya yang masih lemas karena belum terangsang..

Kemudian ku lepaskan kaus yang dipakai Awang. Dia PATUH dan hanya menurut saja dan tanpa membuang waktu lagi kuciumi permukaan dadanya, dari lehernya lalu ku hisap putingnya kiri-kanan sambil tanganku mendekap badannya. Harum tubuhnya menyeruak hidungku, kugigit lehernya dan kusedot dengan hati-hati karena takut berbekas merah.

Awang meronta kegelian, tangannya memegang pundakku dan tangan sebelah lagi mencengkeram rambutku. Dia mendesah dan desahannya membuatku semakin terangsang.

"Oom Awang, nggak marah?" Tanyaku yang hanya di jawab dengan gelengan kepala olehnya.

"Oom Awang! aku sayang sekali sama Oom."

"Iyaaa, Aku mengerti Lex." Jawabnya sambil membiarkan aku meraba-raba punggungnya dengan lembut.

Kutindih tubuhnya, kurasakan penisnya yang mulai keras di perutku. Kuhujani perutnya dengan kelincahan lidahku. Ku jelajahi dengan jilatanku sambil sesekali ku hisap. Dia berkelojotan seperti cacing kepanasan.

Saat itu aku betul-betul BERKUASA atasnya. Kini tangan kananku mulai beraksi atas gundukan di dalam celananya. Kuremas-remas dan kupijit penisnya yang mulai membengkak. Kulakukan gerakan menekan sambil memutar pada buah zakarnya. Lalu perlahan aku berusaha membuka paha Awang

Sedetik Awang MENAHAN TANGANKU dan MENOLAK. tapi aku aku terus memaksa : “Boleh ya Oom....?“ tanyaku.

Aku tidak tahan lagi. Segera ku tanggalkan celananya dan ku tarik lepas. Kini tinggal CD hitam saja yang menutupi benda sasaranku. Tampak sekali CD ketat itu hampir tak muat menahan penis Awang yang sebenarnya belum sepenuhnya eraksi. Tanpa membuang waktu langsung kuciumi dan ku gigit lembut benda di balik CD itu.

Dia mengerang.

Gila ini!, seumur hidup aku tak pernah inisiatif mulai mencumbu cowok, karena para Gay itulah yang biasanya “bekerja“, tapi sekarang beda!, tentu karena aku belajar dari cowok cowok gay yang lebih tua yang pernah “mengerjaiku“.

Ku remas-remas kedua pantatnya. Kemudian kuarahkan jilatanku di kedua pangkal pahanya. Kuhirup aroma maskulin dari selangkang laki laki yang masih innoncent dalam dunia sejenis ini. Awang makin kuat mengerang. menggelinjang sambil mengangkat pantatnya. Kuarahkan seranganku ke pahanya.

Kuangkat sebelah kakinya dan ku ciumi dari lututnya kemudian naik terus sampai pangkal pahanya dan ketika sampai di tonjolan yang mengeras aku gigit sambil ku hisap sampai CD itu basah oleh air liurku, lalu kubuka sampai dia telanjang bulat..

Kuperhatikan juga wajah tampan Awang yang masih mengandung keraguan dan kegugupan saat dirinya DICUMBUI oleh KEPONAKANNYA sendiri yang sama sama berjenis kelamin lelaki.

Tapi aku tak memberinya kesempatan berfikir. Ku mainkan lidahku menyapu kulit bawah penisnya, terus keatas dan ketika sampai di ujungnya kukulum topi baja yang merah mengkilat itu. Kuhisap sambil lidahku memilin kulit yang tersisa dari sunat. Tak kuhiraukan lenguhannya dan goncangan tubuhnya yang menahan kenikmatan yang belum pernah dia rasa sebelumnya.

Awang mencengkeram kuat rambutku saat penisnya kubenamkan dalam mulutku setelah puas kulumat dan kuhisap sampai urat-uratnya mulai bermunculan. Kubenamkan sampai mulutku mentok di perutnya. Kutahan nafasku agar tidak tersedak. Lalu ku lakukan gerakan menelan sembari menghisap. Dia merintih pelan, tubuhnya mengejang.

Aku tersenyum diam diam karena cumbuanku ternyata berhasil membangkitkan nafsu birahi dari alam bawah sadar Awang. Dan aku bertekad akan meneruskan usahaku sampai dia benar benar jadi milikku.

Ya!, sikap Awang yang membiarkan dirinya dicumbu oleh sesama lelaki memang diluar logika dan akal sehatnya, tapi sabodo!, yang penting aku bisa mendapatkan dirinya!.

Tak sampai lima menit berlalu kurasakan penisnya berdenyut dan makin mengeras. Semakin ku percepat aksiku. Kedua tanganku pun kini berada di pantatnya untuk membantu dorongan keluar-masuk mulutku. Tangan Awang pun secara reflek menaik-turunkan kepalaku.

Cairan pre-cum Awang yang licin terasa kelelakian cowok tampan ini begitu gurih. Kulihat Awang terbaring memejamkan mata dan nafasnya semakin menderu deru menahan nafsu yang makin meledak ledak.

Kembali kucumbu dan tidak henti-hentinya ku cium, kubelai laki laki ini. Bukan hanya dengan nafsu, tetapi dengan kasih sayangku yang tulus. Aku ingin menjadi seseorang yang dapat memberi arti baginya. Aku ingin menyenangkan dia!.

Kurasakan batang kemaluan dia menjadi makin keras!. Aku tak menduga bahwa setelah gairah Awang terbakar berkobar kobar sampai tak terkendali ternyata Awang tidak mampu mengendalikan nafsu birahinya dan mulai melupakan bahwa aku sebenarnya keponakan dia sendiri dan masih sama sama berjenis kelamin lelaki.

WOWW!, aku tidak tahu setan apa yang meracuni pikiran Awang sampai dia bisa begitu bernafsu.

OOM AWANG MENYERAHKAN KEPEJAKAANNYA

Mendadak dia MENAIKI TUBUHKU yang terlentang tak berdaya dibawah tindihan tubuhnya dan menggesek gesek batang kemaluannya diatas perutku.. Mungkin Awang sedang membayangkan dirinya sedang bercumbu dengan ANGGI, ceweknya, tapi sabodo amat!.

Aku tahu persis apa yang Awang inginkan saat itu.

Dia ingin melampiaskan gairahnya sampai tuntas tapi sebagai laki laki normal yang sama sekali tidak berpengalaman melakukan percintaan sejenis, Awang belum tahu persis apa yang harus dia lakukan terhadapku.

Gerakannya terlihat CANGGUNG dan serampangan sehingga aku segera mengambil inisiatif dan membimbing Awang untuk melakukan tugasnya sebagai laki laki Top.

Aku rela dia berperan sebagai pihak Top, karena aku memang menghendaki dirinya dan aku teramat mencintai dia. Walau aku belum pernah berperan sebagai Bottom, tapi sekarang aku rela!, apapun akan kulakukan untuk dirinya.

Aku merebahkan tubuhku sampai terlentang dan mengangkat kedua kakiku sampai terbuka lebar lalu aku meraih tubuh Awang supaya menindihku. Dia merangkul tubuhku dengan cara yang kikuk tapi aku segera menggenggam batang kemaluannya dan mengarahkan kelubang duburku sehingga dia langsung mengerti dan mulai mendorong dengan gaya yang kikuk..

“Oom, pelan pelan Oom. pelaaaaan...!“.

Tapi Oom Awang sudah terlalu dikuasai oleh NAFSU BIRAHI. Ia dengan terburu buru menjulurkan penisnya yang sudah tegang ke depan pintu anusku lalu dengan cara serampangan mulai mendorong pantatnya untuk memasukkan batang kejantannnya.

Walau awalnya aku berusaha menahan rasa sakit, tapi cara dia yang tak berpengalaman dan terburu buru menyebabkan tikaman batang kontolnya menimbulkan rasa sakit yang tak mampu kutahan:

”Addduuuh...Sakiiiiit, oouuggghh...!, sakiiiiit... tunggguuuu...” Dan aku berontak melepaskan diri sampai batang kontolnya terlepas: .

Aku mencoba meniru para cowok cowok gay saat mau disodomi sehingga sekali lagi aku berusaha membantu dia dan membuka pintuku selebar lebarnya sehingga dengan agak kesulitan dan Ahh.. Uhh... Ohhh... yang agak panjang, akhirnya Awang SUKSES MEMASUKAN batang kontolnya sampai melesak seluruhnya kedalam tubuhku.!.

Kemudian Awang mulai menarik dan memompa kontolnya yang membuatku merasa sangat mulas sekali hingga tanpa dapat kukendali aku mulai menegang-negangkan otot duburku. Matanya terpejam, mungkin sedang berfantasi menyetubuhi Anggi. Biarin aja!.

"Enak.., lobangmu benar-benar enaaaaak ".

Sambil berucap Awang mulai memajumundurkan pantatnya lagi. Rupanya dia langsung dapat merasakan kenikmatan yang dia reguk dari dalam tubuhku.

Dari untung, rasa sakit yang kuderita dan mulas lama kelamaan mulai hilang. Tapi tidak!, aku belum merasakan sensasi nikmatnya disodomi oleh laki laki. Tidak!, cuma perih dan ngilu!. Mungkin karena belum terbiasa.

"Teruss.. Oooom.. Enak.. Ohh.. umph.. akh..", Lepas kontrol aku berusaha mengeluarkan suara lenguhan dan desahan sekedar untuk menyemangati Awang. Dan betul!, eranganku membuat goyangan Awang makin hebat. Makin lama tubuh Awang juga mulai menegang dengan entotan yang makin cepat, makin tak teratur, makin menggila!.

Kutatap wajah Oom Awang yang sedang menindih dari atas, ia tampak asyik dan ngos-ngosan.

"Lex.. Enakk.. Lex…. " Suaranya pelan.

"Aaaaggghhh.. aku keluarkan di dalam ya?", Awang mendesah sambil mendongakkan kepalanya sambil menahan desakan yang makin menggelora.

Batang bulat panjang berdenyut-denyut di dalam anusku, Kurasakan gesekkannya didalam saluran pantatku mendatangkan sensasi panas, pedas, dan mulai terasa nikmat saat menggesek prostatku.

Dan .. aaaaaaaghhhhhh….!,

Aakhirnya Awang mengejang sembari melenguh panjang saat cairan yang tertahan itu muncrat keluar: “Crettt..!, crettt…!, cretttt…!, cretttt…!”. Kurasakan tembakan cairan panas di saluran anusku. Terus melimpah deras seperti banjir yang menghambur masuk kedalam tubuhku.

Ya dia sudah orgasme!. Memuntahkan benih2 keturunan manusia kedalam tubuhku.

Setelah beberapa saat ia cabut penisnya dan langsung telungkup di sampingku.

Sebenarnya aku ingin juga giliran aku merojok rojok lubang dubur Awang yang masih perawan. Tapi dia menolak aku mentah mentah sehingga walau darah mudaku masih berkobar kobar oleh hawa nafsu tapi aku tak ingin memaksakan kehendakku secara paksa kepada Oom Awang, sampai dia betul betul siap.

Akhirnya kami saling merangkul dengan wajah berhadapan dan hidung saling menempel. Posisiku ada di bawah sehingga dengan mudah kuelus-elus punggung dan pantatnya sampai ia tidur di atasku. Aku membayangkan percintaan yang baru kami raih bersama orang yang jadi pujaanku selama ini. Aku tidak menikmati persenggamaan ini, tapi aku rela Awang mendapat kepuasan dari tubuh telanjangku.

Pagi harinya aku terbangun saat Awang baru selesai mandi sehingga akupun buru buru gantian masuk ke kamar mandi. Sambil menyabuni tubuh, aku membayangkan peristiwa tadi malam dan mendadak kemaluanku menegang karena hasratku terrangsang oleh gairah yang belum tuntas kulampiaskan.

Ketika keluar dari kamar mandi ..aduh!, wajah Awang terlihat keruh dan PENUH PENYESALAN...!. Aku bingung kenapa ia bersedih seperti itu? Padahal tadi malam dia seperti menikmati perbuatannya.

"Oom, Oom Awang kenapa?." Tanyaku.

Ia tak menjawab.

"Oom Awang menyesal?" Suaraku pelan sambil menahan ledakan gairah yang belum tersalurkan dari tadi malam.

Dia mengangguk.

"Kenapa menyesal?".

"Aku telah menghianati cintaku pada AANGGI pacarku Lex!".

Degh...!, Kini aku benar-benar bingung, sedih dan ada sedikit rasa penyesalan karena telah membuat Oom Awang yang selalu tertawa jadi bersedih. Meski sebenarnya ada sebersit kemarahan dan ketersinggungan di hatiku.

"Aku salah Lex, seharusnya aku tidak melakukan hal itu terhadap Lexy tadi malam, tapi entahlah aku tidak bisa berfikir sehat semalam."

"Aku menyayangi Oom Awang sebagai Pamanku dan Pacarku, tapi aku juga mencintai Oom Awang sebagai laki laki!”.

“Justru tidak boleh!, aku pamanmu…, aku adik ayahmu…!.” ujarnya

“Tapi kejadian semalam karena aku sendiri yang menginginkan." Bujukku.

"Maafkan Oom ya!, kehadiran Oom semakin memperparah kepribadian Lexy, tapi Oom harap Lexy mau berusaha, cobalah untuk mencintai seorang gadis. Kalau Lexy masih ingin jadi keponakanku, maka tidak ada alasan lagi bagi Lexy untuk tidak berusaha dan mencobanya, Oom yakin banyak gadis yang suka sama Lexy, Lexy khan ganteng" Urai Awang berusaha untuk bijaksana

”Sebaiknya kita tidak mengulangi hal itu lagi“ tambah Awang lagi. “Oom sayang Lexy, dan Lexy boleh memiliki hatiku, tapi tidak tubuhku!. Maaf Lex, aku laki laki normal dan aku bermaksud serius untuk menikahi Anggi sebagai istri”

“Besok Anggi akan datang kesini dan akan kuperkenalkan dia kepada kamu Lexy” lanjutnya lagi.

”Besok Lexy tidak kemana mana kan?, kita makan siang bertiga yaa?”

Degh...!, aku jadi TERSINGGUNG dengan kalimat kalimat Awang. Kalau tadinya aku dipenuhi oleh perasaan cinta kasih dan rela mau membahagiakan dirinya, tapi sekarang aku tidak terima saat Awang bilang bahwa dia tidak ingin meneruskan hubungannya denganku.

Tidak!. Aku TIDAK RELA!. Aku harus melakukan apa saja untuk mengusai dia!. Mendadak setan mempengaruhi jalan pikiranku dengan kemarahan. Aku tersinggung dan kecewa karena Awang tetap memilih Anggi, ceweknya, bahkan mau mengawini Anggi!. Gak rela!!..

Aku mencari siasat...!, lalu membujuk : “Baik Oom!, aku janji tidak akan mengganggu Oom Awang lagi, tapi untuk terakhir kalinya, please aku ingin bercinta dengan Oom Awang sebagai kenang kenangan yang akan kubawa seumur hidupku” rayuku licik.

Aku terus merayu, merajuk dan membujuk sambil terus meraba dan mencumbu Awang yang masih belum menyadari niatku untuk menjebaknya.

Kuciumi mulutnya yang tipis dan merah merekah, hidungnya yang mancung, pipinya yang mulus, dan bagian bawah hidung yang kasar bekas cukuran kumis, aku sangat terangsang dengan permainanku sendiri. Oooooh! sungguh nikmat

Kuperhatikan wajahnya yang cakep dari bawah, ia tampak memejamkan mata dan sesekali menelan ludah. Mulutku melahap habis bibirnya yang kenyal. Lama sekali kami dengan posisi seperti ini.

Aku pandangi sosok itu lekat-lekat sampai beberapa kali aku menelan ludah. Sekarang dengan jelasnya kupandangi paha putih dan kokoh yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang membuat aku semakin tak kuasa menahan nafsu. Tubuh kekar dan mulus kini ada dibawah tindihanku dan siap kuberi kehangatan dan kenikmatan yang tiada tara.

Awang bimbang!. Disatu sisi, dia menyesali hubungan seks sejenis yang tak wajar bersamaku, tapi disisi lain dia tidak tega melihat aku begitu menuntut dan membutuhkan penyaluran seks yang belum terlampiaskan tadi malam.

Dia hanya diam pasif membiarkan aku yang terus mencumbu dia sampai akhirnya dia kena batunya karena kemaluannya mulai menegang keras dan gairahnya mulai terbangkitkan. Dia tak menyadari niat jahatku untuk menggagahi dirinya dan menjerumuskan dia kedalam perangkap seks sejenis.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2012 GAY INDO STORY. All rights reserved.