Jumat, 03 Februari 2012

Ampun Bang, Kontol Elo Gede Banget - Joni

Jari Joni yang berbonggol-bonggol gede keras kapalan masih keluar masuk dan berputar putar didalam lobang pantatku yang sudah licin dibasahi oleh precum Beni, sementara aku masih saja menjilati membersihkan kontol Beni. Joni yang terkadang dipanggil Juntak itu berusia sekitar 20 - 25 tahun, tipikal lelaki muda Batak yang fresh from the "huta", wajahnya persegi keras tubuhnya "pendekar" (pendek dan kekar), logat bahasanya masih kental dan wow... kontolnya yang gede masih uncut !

Diantara kelima pekerja itu dialah yang paling slebor berpakaian, celana jeans bututnya sedemikian sempit membalut kakinya sehingga bentuk kontolnya tercetak nyata dicelananya tersebut dengan robekan disana sini dan terutama disekitar kontolnya yang gede itu tampak bahan jeans tersebut menipis aus mungkin karena keseringan digosok-gosok oleh yang empunya kontol, ritsleting celana jeansnya sudah rusak hingga terbuka begitu saja memaparkan jembut hitam ikal milik Joni bahkan kancing celananyapun sudah tidak berfungsi lagi, dia hanya mengikat dengan seutas tali agar celananya tidak merosot. Demikian pula dibagian pantat celananya sudah tipis bahkan robek disana sini menampakkan daging pantatnya karena dia tidak memakai cd.

Bajunya buntung dengan jahitan yang sudah tetas dari mulai bagian ketiak hingga ke bagian pinggangnya yang ramping sehingga kedua sisi rusuk dadanya yang berotot dapat terlihat dengan jelas, ditambah lagi robekan dibajunya setentang puting susunya yang item gede melenting membuat setiap lelaki sakit seperti diriku ini ngiler abis ingin menjilat putingnya itu.

"Nonton di Grand yuk" kata Joni padaku dengan jarinya masih merojok rojok lobang pantatku

"Ahh... lagi males nonton, ngapain juga..." jawabku sembali menjilati bibirku membersihkan lelehan pejuh Beni yang masih menempel disana

"Ya bukan untuk nonton, tapi aku pingin ngentot kau sambil ditonton orang... getooo" sergah Joni

"Dasar batak gila seks... he he he..." Beni yang masih telanjang bulat telentang di dipan berkomentar

"Ayolah... aku udah pingin kali nih" kata Joni padaku

Dengan menumpang angkutan kota kami tiba dibioskop Grand, masuk diruang tunggu tampak ada belasan orang saja yang sudah menunggu disana, rata rata dari kelas ekonomi lemah, tampak dari tampang mereka bersendal jepit, berpakaian seadanya, dan ada dua atau tiga banci yang juga sedang menunggu disana khas dengan suaranya yang sember bak kaleng pecah. Beberapa orang lagi bercanda dengan banci yang emang lagi cari kontol nganggur di bioskop tersebut bahkan ada yang tak segan segan mengeluarkan kontol dari celananya menggoda para banci sialan tersebut sehingga mereka riuh ramai tertawa sambil melontarkan kata-kata kotor.

Tak berapa lama loket karcis dibuka dan dalam tempo sekejap semua orang sudah masuk kedalam gedung bioskop yang kumuh, suram, berbau dan sumpek tersebut. Aku dan Joni mengambil tempat duduk dibarisan belakang dan telah ada beberapa orang yang juga sudah duduk dibarisan tersebut. Suara dalam gedung bioskop tetap saja ramai dan beberapa orang masih saja berseliweran kesana kemari padahal film di layar perak sudah mulai ditayangkan.

Aku memperhatikan sejenak kesegala arah ternyata tak satupun penonton yang tekun memperhatikan jalannya film kwalitas sangat jelek dan buram bergerimis yang sedang diputar, masing masing sibuk dengan urusannya masing masing pula. Demikian pula Joni, dia menarik tanganku dan meletakkannya ke kontolnya yang sudah tegak menjulang keluar dari ritsleting celananya dan tangannya yang satu lagi menggerayangi tubuhku membuka baju dan celanaku dan memilin milin puting susuku.

"Kau tengok disana..." kata Joni berbisik di telingaku sambil menunjukkan arah disudut kanan belakang gedung bioskop tersebut.

Tampak olehku banci tadi sedang digilir oleh beberapa orang, dientot mulut dan pantatnya secara bersamaan. Disudut kiri belakang sama halnya, tampak sekelompok orang sedang mengangkat menurunkan tubuh banci yang lain dengan kaki terkuak lebar sementara ada seorang yang berbaring dilantai dengan kontolnya yang gede mencuat menjulang keluar masuk kedalam lobang pantat banci tersebut dan beberapa orang lainnya menyaksikan permainan tersebut sambil ngloco agaknya menunggu giliran.

Joni menarik tubuhku untuk beranjak ke lorong tengah, aku setengah takut setengah ingin, menurut saja ajakan Joni. Ketika berjalan kearah lorong tersebut Joni sudah mulai menyodok nyodokkan kontolnya ke sela pahaku dan blesss... dengan tanpa susah payah kontol Joni masuk kedalam lobang pantatku... arrgghh... aku merasakan sensasi yang luar biasa berjalan didepan orang ramai dengan kontol menancap dilobang pantat. Setibanya dilorong tengah, aku bertumpu pada pegangan kursi dan Joni mulai menggenjot kontolnya dilobang pantatku, dia tidak perlu membuka celana jeansnya karena kontolnya sudah sedemikian leluasa mengentotiku melalui bukaan ritsleting rusak celananya, sementara aku hampir telanjang bulat hanya memakai baju yang sudah terbuka semua kancingnya sementara celanaku sudah tanggal dalam perjalanan dari tempat duduk ke lorong tengah tadi... gila !

Dalam hitungan detik beberapa orang mulai mengelilingi kami yang sedang mengentot tersebut, ada yang mengelus kontolku dan tak segan langsung mengemutnya sementara aku terlonjak lonjak dientot kontol Joni sehingga otomatis kontolku terlonjak lonjak pula keluar masuk mulut orang yang mengoralku. Ada yang naik kebangku sambil menyodorkan kontolnya kemulutku untuk kutelan abis sampai kepangkal kontolnya keluar masuk dipangkal kerongkonganku.

"Shrriieekk...!" aku dengar suara robekan, ternyata ada orang yang sedang memperlebar robekan celana Joni dibagian pantatnya dan menyodomi Joni dengan buas, hentakan rojokan kontolnya dilobang pantat Joni sedemikian kuat dan kencang sehingga terasa sampai ke lobang pantatku karena kontol Joni juga ikut terdorong lebih jauh mengaduk-aduk isi jeroanku arrgghh... Entah berapa kontol yang sudah keluar masuk mulutku dan entah berapa banyak pula muncratan orang diwajah - dirambut - didada dan didalam mulutku, tapi kontol Joni masih saja gagah perkasa menghunjam lobang pantatku bahkan semakin cepat - semakin kuat dan semakin dalam menyetuh kelenjar prostatku, bahkan setidak tidaknya aku sendiri sudah tiga kali muncrat didalam mulut orang orang yang mengambil kesempatan mengoral aku ketika Joni mengentotiku di dalam gedung bioskop tersebut namun kontol Joni masih saja gagah perkasa tegang mengeras bagaikan panel baja didalam liang sanggamaku.

Beberapa kali kami bergeser berpindah tempat didalam gedung tersebut bagaikan mimi lan mintuno, atau anjing gencet, karena kontol Joni tetap berada dalam lobang pantatku tatkala kami berjalan... gila, enak banget berjalan dengan kontol tersumbat dilobang pantat, tak dapat kulukiskan bagaimana nikmatnya saat tersebut.

Akhirnya Joni mencapai juga saat yang dinantikan yaitu orgasme hebat muncrat sambil setengah menggeram berteriak sementara tangannya yang kekar mencengkeram tubuhku dengan erat, ketika satpam bioskop tersebut ikut nimbrung mengentoti Joni dengan kontolnya dan bergantian menyodok lobang pantat Joni dengan pentungan karetnya bagaikan dildo gede, membuat Joni menggila persis kaya warok reog ponorogo mabok kesurupan mengentoti gemblaknya yaitu aku, dia mengangkat kedua kakinya hingga tak menjejak lantai gedung tersebut dan menumpukan seluruh berat badannya sambil mengeliat geliat dikontolnya yang tertanam didalam lobang pantatku bagaikan seluruh kemaluannya berikut biji pelernya yang gede itu menyeruak masuk menyatu didalam tubuhku.

Keringat sudah bercucuran habis membasahi tubuh kami, licin, basah kuyup, sejenak tubuh Joni terkulai memeluk belakang tubuhku yang masih dalam keadaan nungging, berdua kami mengatur nafas kembali setelah melewati permainan gila-gilaan di dalam gedung bioskop Grand, sementara satpam bioskop dan penjual tiket sedang ngocok abis-abisan dan akhirnya mengejang menggeram melenguh menyemprotkan pejuh mereka yang kental hangat dan legit ke tubuhku dan tubuh Joni yang tengah terengah-engah menyatu bersetubuh itu... arrgghh. Sementara lampu gedung sudah kembali terang benderang sehingga seluruh orang yang ada didalam gedung tersebut menyaksikan persetubuhan kami diiringi siraman air mani satpam bioskop dan penjual tiket.

Tepuk tangan membahana didalam gedung bioskop itu, bukan applaus terhadap film yang entah kapan mulai dan entah kapan selesai, tapi untuk pertunjukan perkentotan aku dan Beni... akibatnya Beni kembali meregang mengejang sambil menumpukan seluruh berat badannya dititik tumpu yaitu kontolnya yang berada didalam lobang pantatku, sementara pentungan karet item milik satpam masih juga tertancap didalam lobang pantatnya bergerak naik turun seirama dengan muncratan kontol Beni didalam lobang pantatku...

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2012 GAY INDO STORY. All rights reserved.