Jumat, 22 Juni 2012

Pengalaman di SMP, 2

Hari terakhir Ebtanas adalah hari yang paling melegakan. Semua temanku tampak gembira ketika ujian mata pelajaran terakhir sudah selesai. Bahkan ada beberapa di antaranya yang sudah saling coret-coretan baju seragam sekolah, padahal belum tentu mereka semuanya lulus, karena hasil Ebtanas tersebut nanti diumumkan 10 hari lagi. Aku juga memang lega karena telah melewati ujian demi ujian dengan baik, tapi bukan berarti aku gembira. Pasalnya, dengan berakirnya Ebtanas, berarti mulai malam ini Franky tidak akan menginap di rumahku lagi. Tampaknya Franky dapat memahami perasaanku, karena setibanya kami di rumah, dia jadi serba salah melihat ekspresi wajahku yang muram.

Perlahan ia mendekatiku dan dengan nada lirih ia berkata, "Ver, ada yang ingin ku sampaikan kepadamu. Aku..."

"Nggak perlu diteruskan, Frank", potongku. "Aku sudah tahu bahwa kamu mau pamitan kembali ke rumahmu, iya kan?"

Franky hanya terdiam di sampingku, dengan kepala tertunduk. Memang saat itu ia kelihatan salah tingkah. Franky tahu bahwa aku sangat sedih karena hari ini ia harus kembali ke rumah orangtuanya di luar kota. Ia memang tak punya pilihan lain. Orangtuanya pasti bertanya-tanya kalau ia tidak kembali hari itu juga, karena mereka tahu bahwa Ebtanas-nya sudah berakhir.

"Frank, maafkan aku. Bukannya aku bermaksud menahanmu di sini selamanya. Tapi setelah malam-malam indah yang kita lalui berdua, sungguh aku merasa berat jika kehilangan dirimu", ujarku sambil merangkulnya erat-erat.

"Siapa bilang kamu akan kehilangan diriku?", Franky menghapus dengan lembut airmata yang sudah mulai membasahi wajahku. "Meskipun aku tidak tinggal di sini lagi, tapi kapan-kapan aku bisa datang menginap, kan? Atau sebaliknya, kamu juga bisa nginap di rumahku kalau kamu mau. Tapi asal kamu tahu aja, rumahku lebih pantas disebut gubuk. Ngak kayak rumahmu ini." Aku enggan menanggapi kalimatnya. Aku segera keluar dari kamar dan duduk termenung di beranda. Terus terang aku tak mau menyaksikan Franky membenahi barang-barangnya. Saat duduk di beranda, aku melihat Ali (sopir keluargaku) mengeluarkan mobil dari garasi. Ibuku keluar tergesa-gesa dari rumah dan beliau berpesan padaku, kalau ada yang telepon, sampaikan bahwa ibu sedang ada acara di kantornya bapak.

Segera setelah ibu meluncur dengan mobil, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Ku dapati si Franky sedang duduk termenung di tepi ranjang. Di dekatnya, tas punggung berisi pakaian dan barang-barangnya sudah siap untuk dibawa. Saat aku masuk, Franky segera mengunci pintu kamar. Ia pun mendekap diriku yang sudah duduk di ranjang.

"Sudahlah, Frank... aku tidak sudi dikasihani", ujarku sambil menepiskan lengannya.

"Siapa bilang aku hanya sekedar rasa kasihan kepadamu? Kamu salah besar, Ver! Aku juga menyayangimu. Kemesraan antara kita selama beberapa hari ini juga telah membuatku merasa berat berpisah denganmu", Franky tetap berusaha merangkulku lebih erat lagi.

Aku tak kuasa menolak lagi ketika Franky mulai mengecup bibirku dengan lembut dan mesra. Malah aku yang kemudian menyergapnya dan membalikkan posisi tubuh kami, sehingga kini aku menindih tubuhnya yang kekar itu. Franky semakin menggencarkan French Kiss-nya, membuat sekujur tubuhku bergetar seperti tersengat listrik 1000 Volt. Lama sekali lidah kami beradu, sampai Franky perlahan mulai mengarahkan bibirnya ke pipiku, lalu terus ke leher dan telingaku. Sementara itu, tanganku mulai meremas-remas kepalanya yang ditumbuhi rambut cepak ala militer.

Setelah saling membuka seluruh pakaian kami masing-masing, aku berpelukan dengan Franky dan tool kami yang sudah sama-sama tegang, saling bergesekan. Aku kemudian menurunkan tubuku agak ke bawah, sampai kepalaku bersandar di pundaknya. Ku angkat lengan Franky hingga ketiaknya yang sudah dicukur itu menganga di depanku. Segera tercium aroma khas lelaki yang membuatku semakin horny. Ternyata ketiaknya sangat merangsangku. Aku bermain-main di sana sejenak. Franky menggeliat oleh rasa geli bercampur nikmat. Tangannya mulai mengarah ke selangkanganku, lalu memainkan pelerku dengan jemarinya. Precum sudah mulai membasahi ujung kontolku ketika aku memutar arah tubuhku sehingga kami berada dalam posisi 69. Aku mulai mengulum batang kejantanannya yang berurat-urat itu, mulai dari ujung sampai terperosok dalam ke rongga mulutku. Franky pun mulai melakukan hal yang sama. Dengan nakalnya lidah Franky memainkan ujung kontolku, membuat precum-ku semakin banyak keluar.

Aku kemudian meminta Franky agar mengambil posisi nungging membelakangiku. Tampak pangkal penisnya yang bermuara di sebuah lobang kecil dan diselingi oleh bulu-bulu halus, tepat di belahan bokongnya. Aku mulai memainkan lidahku dari arah kantung zakarnya sampai akhirnya menuju ke lobang yang memang dalam keadaan bersih. Franky mengerang kecil menahan sejuta kenikmatan. Tangannya segera mengocok kontolnya sendiri dengan irama cepat. Rupanya rangsangan yang kuberikan dari arah belakang telah memacunya dengan cepat ke arah orgasme.

"Aaaahhhhhh.......", desah Franky ketika akhirnya ia ejakulasi. Pejunya terpancar ke mana-mana di atas ranjangku.

"Franky... I'm coming, too!", teriakku sambil mengarahkan kontolku ke atas bokongnya. Dan... crot... crot... crot... tak ayal lagi, pejuku telah membasahi punggungnya dari pinggang bahkan sampai ke belakang lehernya, karenya tembakannya sangat kuat. Dengan nafas masih ngos-ngosan, kami berciuman lagi dengan mesranya. Wajah kami sama-sama memancarkan kepuasan yang tak terukur.

Ku dekati telingaku dan berbisik lembut, "Franky, I love you!".

"I love you, too...", balasnya sambil mencium keningku.

Ketika kami telah selesai mandi dan baru saja beranjak ke depan rumah. Ku lihat ibu dan ayahku baru saja turun dari mobil.

"Franky, rupanya sudah bersiap-siap untuk pulang, ya?", sambut ibuku dengan ramah.

"Iya, tante... saya mau pamit. Juga pada oom", balasnya sambil bersalaman dengan orangtuaku. "Terima kasih atas kebaikan tante dan oom selama ini yang sudah menginjinkan saya menginap di sini sampai selesai Ebtanas".

"Aah, nggak apa-apa, kok! Malah ibu dan bapak senang karena kamu telah menemani Versus belajar selama Ebtanas. Soalnya anak ini malas belajar kalau cuma baca-baca buku saja. Versus lebih suka kalau ada teman berdiskusi. Walau sudah selesai Ebtanas, nak Franky silahkan saja kalau kapan-kapan ingin nginap di sini", kata ibuku.

Ayahku menimpali, "Oh ya... masukkan saja tasmu ke bagasi mobil. Nanti si Ali bisa mengantarmu pulang".

"Ah, nggak usah repot-repot, oom! Saya bisa kok pulang pake kendaraan umum", si Franky tersipu malu.

"Sudahlah... nggak usah menolak!", sambungku sambil membawa tas Franky ke arah mobil. Sopir kami, Ali, segera menyambut tas itu dan memasukkannya ke dalam bagasi. Tampaknya Franky tak bisa menolak lagi.

"Baiklah... kalau begitu, terima kasih banyak oom, tante... saya permisi dulu".

Aku dan Franky kemudian menuju ke mobil dan Ali mengantar kami sampai ke rumah Franky yg jaraknya lumayan jauh dari rumahku. Aku sempat mampir sebentar ke rumah Franky dan berbasa basi dengan orangtuanya. Setelah itu, Ali mengantarku kembali ke kota.

Hari-hari setelahnya aku lalui dengan rasa kesepian. Jika malam tiba, aku memeluk bantal gulingku sambil membayangkan seolah-olah Franky ada di sisiku seperti biasanya. Terkadang aku tak dapat menahan diri dan melakukan onani sambil mencium sebuah celana dalam milik Franky yang sengaja ku minta untuk ditinggalkan.

Hari pengumuman hasil Ebtanas telah tiba dan kami semua dinyatakan lulus. Ternyata Franky yang keluar sebagai juara umum, sedangkan aku jadi runner-up. Kami masih sempat bertemu beberapa kali dan Franky juga menyempatkan diri sesekali menginap di rumahku seperti janjinya, sampai acara perpisahan sekolah tiba. Ketika melamar SMA, aku diterima di SMA Negeri di kotaku. Sayangnya aku tak bisa lagi bertemu dengan Franky, karena ia telah diajak pamannya untuk masuk SMA di Surabaya. Hal itu demi kebaikan Franky sendiri. Ia anak yang cerdas, namun orangtuanya tidak sanggup menyekolahkannya ke SMA yang bagus. Jadi, pamannya yang kebetulan datang dari Surabaya bersedia membiayai pendidikannya, tapi ia harus bersekolah di kota tempat tinggal pamannya itu. Untuk beberapa bulan kami masih saling berkirim surat (ketika itu belum ada internet atau email), namun lama kelamaan mulai jarang sampai terhenti sama sekali, karena kami telah disibukkan oleh pelajaran dan kegiatan di SMA masing-masing. Sejak itu aku tidak pernah lagi punya kontak dengan Franky, tapi kenangan indah bersamanya tetap ada dalam diriku sampai saat ini. Oh Franky, di mana engkau berada sekarang?

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright © 2012 GAY INDO STORY. All rights reserved.