Kamis, 17 April 2014

Aku, Pamanku, dan Tukang Ojek

Malam itu aku sedang duduk sendiri di sebuah kafe di Jakarta. Tadinya aku bersama teman-temanku, ceritanya merayakan ulang tahunku yang ke-23, tapi mereka sudah pulang. Memang tadinya mereka menawarkanku untuk pulang bareng, hanya saja malam itu aku sedang ingin lebih lama di luar sendiri, jadi aku bilang saja ke mereka, “Gampang ntar gue ambil taksi, gue masih mau ke Food Hall dulu.” Meski sebenarnya sejak tadi aku belum beranjak dari kursi yang sama.

Dari posisiku duduk dapat memandang ke luar, ke jalanan tengah kota Jakarta yang basah terkena hujan dan mulai sepi. Sambil memegang ponsel, jariku bergerak sana-sini, sekedar menunjukkan orang-orang kalau aku ngga bengong, padahal pikiranku hanya mengawang. Antara lelah, galau, dan kesepian. Aku kangen Budi.

Setelah kejadianku dengan pamanku dan temannya hari itu, hampir setahun yang lalu, aku sudah menjalani hubungan dengan beberapa laki-laki lain. Cerita singkatnya aku ditolak pamanku. Cerita lebih akuratnya selama dua minggu kita sudah mencoba untuk menjalani hubungan yang lebih dekat, tapi dia terlalu takut ketahuan—oleh saudara, rekan kerja, dan lainnya. Dan dia memutuskan untuk menjaga jarak. Nomor kontak dan fotonya masih ada di ponselku, dan di saat iseng seperti ini lah—di saat jari-jariku membolak-balik halaman, scroll atas-bawah tanpa tujuan, terkadang terlihat fotonya—senyumnya yang terpampang beku dalam frame foto kecil itu, dan setiap kali waktu serasa terhenti.

Kita sudah ngga pernah kontak lagi. Terkadang, terutama belakangan, aku makin ragu untuk menghubunginya lagi. Banyak hal yang kulakukan yang membuatku malu dengan diri sendiri. Misalnya kejadian kemarin. Kemarin tengah malam, untuk mencari angin karena belum bisa tidur juga, aku jalan keluar dari kamar apartemenku dengan hanya mengenakan kaus lengan panjang, celana tidur pendek, dan sandal. Aku berjalan cukup jauh di kegelapan itu dan, mungkin karena dinginnya angin malam, tiba-tiba aku merasa ingin kencing. Karena jalan kembali ke apartemen cukup jauh dan di sekitar ngga terlihat ada WC umum, aku memutuskan untuk kencing di pinggir jalan.

Jalanan malam itu cukup sepi, dan kebetulan ada pos ojek yang sudah kosong. Aku kencing di belakang pos itu menghadap ke selokan air. Aku tarik celanaku turun sedikit untuk mengeluarkan kontolku dan beberapa saat kemudian air kencingku menyembur keluar. Baru juga mulai kencing tiba-tiba ada tukang ojek yang berhenti di pos ojek itu. Dia menyelinap ke belakang pos, menatapku, dan membuka ritsleting celananya. Awalnya aku tetap tenang saja kencing di sana, tapi tukang ojek ini bergerak mendekatiku dan menarik celana dalamnya turun sampai ke bawah pelernya—cukup turun untuk mendapat perhatianku.

Aku mencuri pandang ke arah kontolnya kemudian menatap wajahnya sebentar. Tukang ojek ini usianya sekitar 40, di remang lampu jalanan terlihat dia berkumis dan kerutan-kerutan di wajahnya yang berkulit gelap. Perutnya sedikit buncit, badannya agak tinggi, mengenakan kaos dan jaket kulit hitam dan celana jeans. Dia membalas pandanganku. Kemudian aku mencuri pandang lagi ke arah kontolnya. Dia tidak kencing. Tangan kirinya menahan celananya, tangan kanannya mengelus-elus batang kontolnya dan pelernya. Jari-jarinya bergerak ke arah atas, menarik sedikit kaus hitamnya, lalu megusap bulu pubisnya yang lebat, kontolnya perlahan memanjang dan membesar. Lalu dia mendorong pinggulnya ke depan, makin menonjolkan kontolnya. “Mau ngga?” tanyanya pelan.

Aku selesai kencing, menarik celana, dan mengangguk. Sudah beberapa kali aku ngocok dengan membayangkan pria-pria pekerja kasar. Memang ini bukan tukang bangunan atau nelayan kapal, tapi tukang ojek masuk kriteria fantasi jorokku. “Ke tempatku aja,” kataku.

Kita berdua menaiki sepeda motornya dan pergi menuju apartemenku. Selama di perjalanan kita saling memperkenalkan diri. Nama dia Teja, mungkin dari Sutedja. Sesampainya di apartemen agak gugup juga waktu dilihatin penjaga lobby apartemen—aku membawa pria paruh baya yang terlihat, ya, singkat kata membuat tanda tanya. Tapi masa bodo lah. Sesampainya kita di kamar apartemenku, dia membuat beberapa komentar soal kamarku yang nyaman dan lainnya, lalu menceritakan klien dia yang tinggal di apartemen yang 10 kali lebih mewah daripada punyaku. Ya terserah deh, pikirku.

Aku membawanya ke kamar mandiku, berniat mencuci kontol masing-masing dulu. Seusai kita melepas celana, Teja tiba-tiba menarik pundakku keras-keras dengan kedua tangannya. Aku terjatuh di lantai, dan untungnya kamar mandiku cukup ada ruang kosong. Dia menarik rambutku, memasukkan jarinya ke mulutku dan menarik rahangku ke bawah. Lalu dia segera kencing. Air kencingnya diarahkan ke wajah dan mulutku. Air kencingnya yang berwarna kekuningan membasahi seluruh tubuh dan kausku. Rasanya pahit dan baunya tajam. Tanpa basa-basi sesaat sebelum dia akan selesai kencing dia menyogok kontolnya masuk ke dalam mulutku. Aku tersedak oleh air kencingnya yang memenuhi mulutku dan terpaksa kutelan. Saat itu juga aku mau muntah. Tapi sebelum aku bisa memberontak Teja segera mengentoti mulutku, menyodokkan kontolnya yang sudah ngaceng. Kontolnya sekitar 17 cm, dan batangnya cukup tebal, memenuhi semua bagian mulutku.

Sembari mengentoti mulutku dia melepas jaket dan kausnya, memperlihatkan kulitnya yang sepenuhnya cokelat tua, putingnya yang nyaris hitam, dan perutnya yang agak buncit karena usia. Seakan puas mengentoti mulutku, dia berhenti dan menarik lepas kausku. Lalu aku ditariknya berdiri. Teja membungkuk dan menciumi putingku dengan kasar, kumisnya membuatku geli. Kemudian dia melepas putingku, mengangkat lengan kanannya, menarik kepalaku ke ketiaknya. “Jilat.”

Bau apek dan kecut menusuk hidungku. Aku tersedak mau muntah, tapi Teja makin menekan-nekan wajahku ke ketiaknya. “Jilat cepetan.” Dengan ragu-ragu aku menjulurkan lidahku ke ujung helai-helai bulu ketiaknya yang lebat. Tanpa menunggu aku siap, Teja menekan kepalaku lagi, menggencet lidah dan bibirku ke ketiaknya. Eneg dengan rasa ketiaknya, aku lebih menggunakan bibirku untuk melumat ketiaknya, baunya tetap menusuk hidungku. Dia mulai ngocok, sambil mendesah-desah. “Cina emang enak,” erangnya.

Beberapa menit kemudian Teja menyemburkan spermanya ke lantai kamar mandiku. Tapi dia tidak berhenti. Dia menyuruhku untuk berbaring di lantai, kedua kakiku ditariknya mengangkang, dan dia menyuruhku untuk memainkan lubangku dengan jari sambil ngocok. Teja hanya berdiri memandangiku, kaki kirinya menelusuri tubuhku. Lalu Teja jongkok di sekitar kepalaku. Aku langsung ketakutan, takut bisa-bisa dia berniat buang air di wajahku. Tapi untungnya tidak. Teja menempelkan pangkal kontolnya ke mulutku dan dia bergerak maju mundur. Pelernya yang berbulu menutupi hidungku dan kontolnya yang masih lemas tepat di depan mataku. Bau selangkangan dan kontol membuatku mabuk. Teja terus menggesek-gesekkan pangkal kontolnya dengan mulutku. Tak lama kemudian kontolnya mulai mengeras dikocoknya sendiri sambil mendesah.

Karena bau yang membuatku jijik, seberapa lama pun aku mengocok kontolku, aku susah untuk nafsu lagi. Teja, di lain pihak, sepertinya tidak peduli dan menikmati semua ini. Tak lama kemudian kontol Teja sudah sepenuhnya keras lagi, dan Teja meludah beberapa kali di telapak tangannya. Dia mengusapkan air liurnya pada kontolnya, bersujud di antara kedua pahaku, dan mengarahkan kontolnya di lubangku. Kontolnya yang tebal dipaksa masuk ke dalam lubangku yang belum siap. Aku pun mengerang kesakitan. Teja bergerak cepat mengentoti lubangku, ujung kontolnya terasa menyodok prostatku, pelernya menampar-nampar bokongku. “Ahh! Enak gila! Ngentotin Cina! Ahh!”

Aku hanya terus mengerang-erang karena kesakitan. Untungnya aku tahu kamar sebelah kamar apartemenku masih belum dihuni. Gerakan menyodok Teja penuh dengan tenaga, badanku terus terguncang maju mundur.

Tak lama kemudian dia mencapai klimaks, beberapa denyutan kontolnya dapat kurasakan. Tapi tidak semuanya dia keluarkan di dalam lubangku—dia kembali jongkok di sekar wajahku dan menyodokkan kontolnya masuk ke dalam mulutku, dan menyemburkan sisa spermanya di dalam sambil tangan kanannya menahan kepalaku untuk tidak bergerak. Bau kontolnya dari dalam lubangku, apek selangkangannya, dan rasa peju membuatku makin mabuk ingin muntah. Aku sama sekali belum keluar, terbaring di lantai kamar mandi yang dingin dan kontolku makin lemas. Tapi Teja tidak terlihat peduli. Dia bergegas mencuci kontolnya di wastafel dan mengenakan baju. “Gue turun sendiri aja,” katanya singkat dan dengan segera keluar dari kamar apartemenku. Cukup lama aku terbaring di sana, masih kaget dengan semua itu. Aku baru mulai coli sekitar lima belas menit kemudian, tangan kananku mengocok dan tangan kiriku memainkan lubangku yang masih basah dialiri peju Teja.

Begitulah kejadiannya kemarin malam, sehari sebelum hari ulang tahunku. Mengingatnya membuatku merasa kotor, merasa tidak layak lagi untuk Budi. Aku menyesal sudah melakukannya dengan tukang ojek itu. Tidak seperti fantasiku, kenyataannya aku membenci baunya dan semua itu hanya membuatku merasa jorok dan sedikit trauma. Mengingat semua ini aku hanya bisa melepas nafas dalam-dalam.

Tak disangka, di tengah-tengah kegalauanku itu, tiba-tiba aku menerima pesan di ponselku. “Apa kabar Wendy?” dari Budi. Aku tersentak kaget, mulutku menganga, mataku membelalak, dan kemudian bibirku tertarik ke atas—tersenyum.
 
Copyright © 2012 GAY INDO STORY. All rights reserved.